When I Love You

pict : from pintereset with keyword “sky”
by ravenclaw

 

Aku masih mencintaimu. Masih memimpikanmu di malam-malam yang sudah-sudah. Masih merasakan hawamu pada kudukku.

Jatuh cinta padamu di usia yang masih segenap biji jagung, sangat aneh. Merasakan air hujan bersamamu saat pulang dari kegiatan pramuka membuat segalanya menjadi tidak aneh. Aneh, tapi tidak aneh.

Karena aku yakin saat itu ada kamu.

Kamu yang dengan isengnya menyuruhku membuat pesawat dari kertas dan kertas itu harus berisi harapan-harapan anak kecil di usia itu. Kamu yang dengan isengnya menyuruhku untuk berbagi biskuit denganmu yang hanya beralasan kalau kamu lapar. Kamu yang dengan isengnya menyatakan tinggi langitnya dari bumi sama dengan tingginya perasaanmu kepadamu.

Aneh, tapi pipiku bersemu merah. Menghangat dengan sendirinya setelah kamu tersenyum kearahku, setelah kamu baru saja menyukseskan mengobrak-abrik pikiranku dengan kalimat anehmu.

Aneh, tapi aku bingung. Dan anehnya lagi, jantungku berdegup kencang.

Dan anehnya lagi, jantungku masih saja berdegup kencang saat ada yang menyebut namamu. Entah namamu, kenanganmu, dan pertanyaan yang belum dijawab hingga saat ini.

Kemana kamu pergi?

Dimana kamu sekarang?

Dan apakah kamu masih mengingatku?

Dengan gamblangnya aku masih bisa mengatakan kalau kamu pasti akan mengingatku, teman saat pulang sekolah dan kegiatan pramuka, teman yang selalu menyediakan biskuit untukmu yang kelaparan, teman saat menemanimu di sore hari menjelang maghrib.

Dari sini, muncul satu pertanyaan yang mengangguku.

Apa kamu memang benar-benar sudah melupakanku?

Aku tidak tahu apa jawabannya.

Ini sudah delapan tahun kamu meninggalkanku. Kamu pergi, aku diam. Kamu berjalan ke depan, aku masih diam di tempat. Kamu melupakanku, aku masih saja mengingatmu. Mungkin?

Ini sudah delapan tahun kamu meninggalkanku. Anehnya aku masih saja mengingatmu, detailnya bersamamu selama dua tahun. Dua tahun yang terlalu singkat.

Jatuh cinta itu ternyata aneh ya?

Ini sudah hampir satu dekade, dan aku masih saja bisa membayangkan wajahmu yang lugu. Masih membayangkan senyummu yang menyapa di sore hari. Masih saja, padahal itu sudah lama.

Padahal aku sudah menjadi mahasiswa dan kamu juga tentu sudah menjadi mahasiswa senior. Padahal kejadian itu terjadi saat aku masih duduk di kelas 2 SD dan kamu di kelas 3 SD. Lama.

Dan anehnya kelakuanku masih sama seperti dulu, seperti yang kamu bilang.

Duduk di depan teras, menikmati sore menuju maghrib, sebungkus biskuit menemani, dan kamu menyapaku dengan senyummu. Berharap kamu mengatakan…

“Kau tahu, tinggi langit sangat jauh dan juga tinggi. Sama seperti rasaku padamu.”

 

dari seseorang yang melupakan definisi tinggi langit lainnya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s