[Sequel] In Same Time

In Same Time

In Same Time

By ravenclaw

Kang Daniel (Wanna One) & Lee Percy (OC) | Fluff, Hurt, Romance, Drama | Teen | Ficlet

Back To Normal

Sampai akhirnya aku menemukan fakta.

0o0o0o

Pertama kali aku mengenalnya adalah saat ayah dan ibu mengajakku pergi ke sebuah rumah di pertengahan kota. Aku saat itu masih tidak tahu apa maksudnya aku diajak kesana, apa tujuannya, kenapa harus aku yang diajak.

Sampai akhirnya aku paham, kenapa aku dibawa ke rumah minimalis berwarna oranye muda ini. Sesaat aku mendengar ketukan flat shoes, seorang gadis muncul. Ia mengenakan dress berwarna peach, dengan rambut digerai berakhir dengan gelombangan yang natural. Wajahnya putih berseri sedikit memerah. Namanya Percy.

Perlu beberapa detik untuk mengetahui namanya sebelum ia mau menyebutkan nama sembari membalas sodoran tanganku. Namanya semanis rupanya yang sering ia sembunyikan kala pertama kali kami bertemu. Nama yang jarang didengar sekaligus digunakan, mengingat ibunya bukan asli keturunan Korea.

Juga perlu beberapa menit untuk mengetahui tujuan kenapa kami, terutama aku dan Percy, harus dipertemukan seperti itu. Berawal dari candaan ayah Percy soal perkenalan tadi sebagai permulaan disusul pertanyaan apa maksudnya dari Percy.

Kami dijodohkan.

Perjodohan ini juga tergantung bagaimana kami berinteraksi yang membuatku sedikit ragu. Aku juga tidak tahu kenapa semua orang menatap Percy seolah hanya dia yang harus menjalankan semua ini, disaat aku berusaha mengalihkan semua pikiranku, aku disadarkan satu kalimat darinya.

“Ya, aku menyetujuinya.”

Persetujuan darinya mulai berlanjut pada hari-hari kami selanjutnya. Aku yang semakin sibuk dengan kantor, mulai dilonggarkan yang pasti itu akal-akalan dari ayah. Begitu juga dengan Percy yang sibuk dengan tugas akhirnya sebagai mahasiswa pasca sarjana. Setahuku, tugas akhir yang dikerjakannya sudah mencapai akhir dan hanya menunggu sidang selanjutnya pendaftaran untuk mengikuti wisuda.

Ya, kami benar-benar diberi kesempatan untuk saling mengenal. Dari ia yang membawakan bekal makan ke kantor bila ada waktu, menjemputnya dari kampus lalu mengantarnya pulang, sampai-sampai salah satu dari kami menemani hanya untuk sekedar mencari sesuatu atau menghilangkan penat.

Dari semua kegiatan itu, aku mulai memahaminya. Percy tidak pernah menyukai rok. Terlihat dari caranya ia berjalan, berirama dan cepat, tapi tidak terburu-buru. Percy juga sangat menyukai segala makanan berbahan cokelat, apa saja. Percy lebih menyukai moccacinno daripada caramel latte juga air putih. Percy sangat menyukai pengetahuan medis, dimana ia mengambil jurusan pasca sarjananya. Dan Percy lebih suka merenung saat kami kehabisan topik pembicaraan.

Percy memang seperti wanita kebanyakan, menyukai hal-hal romantis seperti saat kami terjebak hujan di peron stasiun. Kulepas jas yang kukenakan dan disampirkan di kedua bahunya yang sedikit bergetar karena udara dingin. Aku bukan cenayang, tetapi aku paham kalau Percy juga menyukai perlakuanku padanya. Melindunginya, menjaganya, mengenggamnya, dan entah apalagi.

Seolah-olah aku merasa kenal Percy lebih dari siapapun. Tetapi, itu hanya sementara. Hal tersebut hanya bertahan selama sembilan bulan, tiga bulan setelah kami bertunangan.

Percy berubah.

Ia tidak berubah seperti wanita biasanya. Ia tetap anggun, ia masih tidak menyukai rok, ia masih berusaha untuk belajar memasak, ia masih menyukai pengetahuan soal medis, tentu saja ia masih menyukai makanan berbau cokelat. Tetapi Percy lebih sering menghabiskan waktu dalam dunianya, sampai aku harus menyadarkannya, kalau aku ada di sampingnya.

Bukannya aku tidak suka, tetapi aku tidak nyaman. Alasan itu membuatku harus mencari apa yang menyebabkannya selalu terjatuh merenung sampai hampir ia meneteskan air mata atau terlihat pucat jika Percy ketahuan melamun.

Aku berusaha mencari apa penyebabnya, wanitaku yang semakin berubah. Sampai akhirnya, pada malam menuju dini hari, dimana Kamis hendak menyapa, dimana matahari mulai mempersiapkan segala pesonanya, dan dimana aku hendak tertidur, aku harus menunda istirahatku oleh panggilan dari ponselku. Menemukan fakta bahwa…

“Ah, iya ibu, bagaimana?”

“Bisakah kau ke rumah, Daniel?”

“Iya, memangnya kenapa, ibu”

“Percy, Percy, mulai teringat dia…”

“Dia? Siapa?”

“Dia, dia, pria yang pernah menjadi kekasih Percy.”

Percy pernah menjadi wanita milik orang lain sebelumku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s