In The Morning Saturday

PhotoGrid_In The Morning Saturday

In The Morning Saturday

By ravenclaw

Yoon Jeonghan (SVT) & Park Leen (OC) | Fluff, Friendship, Hurt, Comfort, AU | Teen | Vignette

Ini Sabtu pagi dan ia mendapat jawabannya selama ini.

0o0o0o

Ini Sabtu pagi keduanya di Seoul. Baru saja ia melempar alarm putihnya ke sembarang arah tanpa sengaja setelah alarm itu berhasil membangunkannya dengan bunyian khasnya selama dua puluh kali. Omong-omong, satu kali berbunyi menghabiskan waktu lima detik dengan jeda lima detik pula.

Dirinya terbangun dengan rambut cokelat acak-acakan khasnya. Suara tak jelas keluar dari mulut kecilnya yang tak sengaja mengeluarkan beberapa tetes air liur yang masih belum ia sadari. Kedua matanya menyipit menatap jendela yang sudah menerangi kamarnya. Baru sadar kalau ini sudah jam sembilan pagi waktu Korea. Kalau tidak salah.

Lagipula tebakannya tidak meleset, hanya meleset satu menit saja kala matanya yang masih menyipit mencoba mencari keberadaan jam dindingnya. Ia menatap sekeliling lalu tepat berhenti pada sebuah jam alarm putihnya yang sudah mendarat manis di sofa pojok ruangan. Ia bisa bernapas lega melihat jamnya mendarat pas di sana, tanpa sengaja pula. Jadi, ia tidak perlu mengeluarkan uangnya hanya untuk beli barang sepele, menurutnya.

Ia juga malas untuk keluar-keluar hari ini. Sudah cukup baginya jalan-jalan selama seminggu penuh, hanya untuk keliling kota kelahirannya yang menurutnya sudah banyak berubah. Tidak hanya itu saja, ia sudah membeli banyak barang kebutuhannya selama sebulan kedepan nanti, kalau tiba-tiba ia merasa mogok bergerak seperti saat ini dan tetap di kamar bersama buku-bukunya, makanan-makanannya, dan baju-bajunya yang sudah ia beli seluruhnya. Setidaknya itu semua hampir menghabiskan, berapa ya? Ia lupa.

Tapi ia masih memiliki lebih-dari-cukup uang. Jadi, ia tidak perlu khawatir di hari Sabtu paginya ini.

Oh, oke. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

Sepertinya harus membersihkan diri sembari membersihkan bibir kecilnya yang baru ia sadari mengeluarkan beberapa tetes air liur.

“Menjijikkan,” ejeknya terhadap diri sendiri.

Ia melempar selimut yang membungkusi tubuhnya asal. Berjalan pelan menuju kamar mandi sembari mengambil sebuah handuk putih. Kemudian ia menutup pintu dengan keras. Tak lama terdengar suara air di dalamnya.

 

0o0o0o

 

Ia melepas handuk yang membungkusi rambut basahnya, mengeringkannya sebentar dan meletakkannya dengan rapi di tempat semula ia mengambil handuk itu. Kedua matanya yang bulat tak sengaja menatap kamar abu-abunya dengan sedikit horor.

Sejak kapan seorang Park Leen memiliki kamar berantakan seperti ini. Berdecak adalah pilihan terbaiknya untuk melihat kamarnya yang menurutnya sekarang aneh.

“Ayolah, aku malas bergerak,” rengeknya entah kepada siapa.

Lean berjalan menyeret kedua kakinya untuk membereskan seluruh plastik berisi barang belanjaannya minggu kemarin yang belum dirapikannya sampai saat ini.

Demi apapun ia tidak suka ada yang menganggu hari Sabtu paginya ini. Entah panggilan kantor, suara knalpot, bahkan kicauan burung yang tak sengaja menabrak kaca jendelanya saat dirinya masih mandi tadi. Dan sekarang Leen membereskan barang-barangnya sendiri, dan ini sangat menyebalkan untuknya.

Untung ayah dan ibunya tidak ada di rumah. Ayahnya sedang sibuk di kantornya dan ibunya sibuk mengurus rumput tetangga alias neneknya di belakang rumah. Jadi, Leen bebas. Setidaknya dari suruhan kedua orang tuanya.

Dengan malas pula, Leen menyusun rapi baju-baju barunya di lemari kayunya yang belum pernah diganti sejak ia memiliki kamar sendiri. Baru sadar Leen melirik seluruh pakaiannya, ternyata gaya fesyen-nya sudah berganti.

Apa ini efek dirinya sudah terlalu lama bekerja di negeri orang sampai-sampai fesyen yang dianutnya, tomboy, berubah menjadi sedikit girly. Lumayan juga, pikirnya.

Di Sabtu paginya ini, apa yang harus dilakukan setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan yang menguras tenaganya. Padahal ia juga belum sarapan. Apakah ia harus turun ke bawah hanya untuk makan sereal dan menikmati tontonan televisi yang tidak dikenalnya sama sekali? Sepertinya itu lebih baik.

Maka, Leen memutuskan untuk menutup pintu kamarnya dari luar. Berjalan menuju tangga penghubung lantai bawah dengan santai sembari melirik apakah-ada-makanan-untuknya di meja makan. Dan sialnya memang tidak ada makanan untuknya.

Ibunya jahat sekali atau mungkin lupa sedang ada manusia beruang di rumah ini. Entahlah, Leen akhirnya juga berjalan ke dapur, menyiapkan sebuah mangkuk putih besar, mengeluarkan sekotak sereal yang masih tersegel juga sekotak susu cokelat yang sudah ia cicipi beberapa hari yang lalu, lalu menuangkan seluruhnya tanpa menyisakannya sedikit pun. Masa bodoh dengan ibunya kalau nanti kaget melihat isi kulkas nampak berkurang. Toh, ia bisa membelinya sekali lagi dengan jumlah berkali-kali lipat. Leen, kan masih punya uang.

Setelah menyiapkan sarapannya, Leen berjalan menuju ruang tengah, duduk di sofa bagian tengah, menyalakan televisi yang sialnya tengah menampilkan channel berita ekonomi dunia yang-membuatnya-sangat-mual yang sudah ia hapal apa yang akan diberitakannya nanti. Dengan decakannya ia mengganti ke asal nomor dan mendapati sebuah channel yang menayangkan sebuah film kolosal.

“Begini lebih baik,” ujarnya dengan senang. Tak lupa ia menaikkan salah satu kakinya ke atas sofa, mengambil mangkuknya tadi yang ia taruh di atas meja kaca, lalu memakannya dengan lahap seolah tidak boleh ada yang meminta. Padahal ia di rumah sendiri.

Baru saja hendak memasukkan suapan pertama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Eh, depan rumahnya atau depan rumah tetangga?

Entahlah, lebih baik Leen memasukkan suapan pertamanya saja dulu.

Pada kunyahan pertama terdengar seseorang memanggil namanya dengan keras, “Park Leen!” yang Leen yakini kalau dirinya salah mendengar. Kan, Leen menyalakan televisi dengan volume yang cukup memekakkan telinga.

Lebih baik Leen menghabiskan suapan pertamanya saja dulu, pikirnya.

Dan pada suapan kedua memasuki kunyahan kedua juga, terdengar lagi seseorang memanggil namanya. Namun, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Park Leen!!”

Leen langsung menaruh mangkuk serealnya di atas meja kaca, menimbulkan suara yang keras, lalu berjalan cepat sembari menyiapkan kata-kata penuh umpatan yang menunggu untuk disembur. Satu hal yang Lean tahu, yang memanggilnya adalah seorang laki-laki. Itu saja.

“Oi! Park Leen!”

“Cerewet!”

Baru ia membuka pintu depan rumahnya, terlihat seorang pria yang tingginya melebihi sejengkal darinya, tersenyum sembari melambaikan tangan kanannya. Tangan kirinya ia masukkan ke dalam celana jins, omong-omong.

Leen berdiri diam di depan pintu rumahnya. Tak merespon dan lebih memilih mengamatinya dalam diam.

Sialnya, pria pemilik mobil Range Rover, kalau tidak salah, justru nyengir lebar seperti tidak tahu saja ia baru saja menghancurkan hari Sabtu paginya yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Omong-omong, sudah berapa kali ia menyebut Sabtu paginya itu?

“Kau tak ingat, ya? Dan… Hei! Bukakan dulu pagarnya!”

Dengan enggan Leen menyeret kedua kakinya menyeberangi teras rumahnya dan membukakan pagar untuk pria tamu-yang-tak-dikenalnya ini. “Wah, lama tak jumpa!” secepat kecepatan anak panah yang dipanah, pria yang-tak-dikenalnya ini memeluknya dengan erat. Tentu saja membuat Leen kaget bukan main.

Leen yang ada di dalam pelukan pria yang-tak-dikenalnya-yang-ternyata-suka-peluk-sembarangan segera memberontak. “Hei! Hei! Lepaskan! Kau tidak belajar sopan santun apa di sekolah!?” kesalnya sembari menahan malu. Siapa tahu kalau ada tetangga melihatnya dipeluk erat oleh pria ini.

Sialan!

Ditambah lagi, pria ini memeluknya terlampai erat. Bahkan Leen bisa mencium bau apa saja yang menempel pada pria ini mulai dari bau cologne, bau harum bajunya yang baru saja dicuci dan disetrika, dan… bau obat-obatan? Bahkan Leen bisa mendengar irama detak jantungnya. Menghitungnya tanpa sengaja dengan tempo waktu yang lambat.

Setelah tiga puluh detik berlalu ia memaksa untuk melepaskannya. Andai saja kalau Leen tidak punya malu. Tapi pria ini terlampau kurang ajar. Apalagi pria ini adalah pria yang-tak-dikenalnya-yang-menganggu-Sabtu-paginya ini.

Detak jantungnya benar-benar berirama.

Pria yang-tak-dikenalnya-yang-menganggu-Sabtu-paginya ini mengamatinya dengan seksama. Terlihat sekali dari caranya memandang seolah-olah ada yang aneh darinya. Membuat Leen tidak nyaman. “Kaos putih lengan sepertigaempat dipadu dengan celana cokelat muda sepertigaempat juga dengan kerut dibawahnya. Fesyen-mu benar-benar berubah, ya?”

Kali ini ia benar-benar harus sadar. “Kau siapa?”

“Kau benar-benar tidak mengingatku? Ah, yang benar saja? Apa karena rambutku sudah kupotong, ya? Atau karena kurang lama kau untuk dipeluk olehku? Apa kau butuh satu pelukan hangat lagi supaya kau ingat aku?” Leen menggelengkan kepala, “tidak, terimakasih. Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri,” ujarnya sembari menatap sekeliling, siapa tahu ada yang melihat adegan tadi.

Pria itu menggelengkan kepalanya beberapa kali sembari menahan senyum khasnya, “kau masih sama seperti dulu, ya? Tidak mau mempermalukan diri di depan umum.”

Leen hanya mengangkat bahu, “kau siapa? Anak teroris-kah sampai-sampai kau datang ke sini karena kau tahu aku bekerja di pemerintahan Amerika Serikat lalu kau meminta pencabutan buronan kepadamu, gitu? Tapi maaf sepertinya itu tidak akan terkabulkan karena…”

“Ah, kau itu masih sama seperti dulu, suka berprasangka yang tidak baik. Aku tahu kenapa kau lebih memilih anak teroris yang mewarisi profesi bapaknya, tapi yang jelas aku ini adalah anak dari dewa ketampanan  penuh keberanian.”

“Hah? Dewa? Dasar bodoh.” Leen berdecak kesal. Kesal karena sudah menghabiskan setidaknya lebih dari lima menit. Sayang juga nanti sereal yang barusan ia buat menjadi mubazir hanya karena kedatangan satu tamu tak diundang. Tanpa banyak kata ia berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tapi, lagi-lagi ia kalah cepat. Karena sudah ada lima jari tangan kiri mencekal tangan kanannya.

“Kalau aku bodoh, aku pasti tidak tahu kalau pipimu memerah setelah aku memelukmu. Kau tahu kenapa pipimu memerah? Karena ada hormon adrenalin yang membuat vasodilatasi di otot pipimu.” Pria itu tersenyum penuh kemenangan.

“Oke, kau menang,” ujar Leen akhirnya. Dan akhirnya juga Leen mengekori kemana langkah kaki pria yang-tak-dikenalnya ini berjalan. Setahunya ini adalah arah menuju taman komplek perumahannya. Tanpa sadar juga pria ini sudah berani menggenggam jemarinya yang ternyata sudah terasa hangat.

“Kau masih belum mengingatku?” tanya pria ini dalam sela-sela perjalanan mereka.

Leen menggeleng, “aku tak mau mencobanya.”

Langkah pria itu berhenti lalu menghadapnya. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita main tebak-tebakkan saja?” jemarinya kemudian lepas dan tersenyum kearahnya, “kau pasti suka susu cokelat, kan?”

“Semua orang pasti menyukai susu cokelat, kecuali untuk yang alergi.”

Sekelebat tergambar jelas sekali di wajahnya ada raut kekecewaan, “kalau kue? Biar aku tebak, kau menyukai segala jenis kue apalagi dengan rasa cokelat dan keju. Apalagi kue gratis untukmu. Mungkin aku harus memberimu kue gratis supaya kau ingat lagi.”

Kue cokelat dan keju, menurutnya semua orang pasti akan menyukainya.

Kue gratis juga semua orang menyukainya.

Apalagi kue cokelat dan keju yang diberikan padanya dengan gratis.

Apa…

“Siapa lagi yang menaruh kue di lokermu, Leen?” tanya Miju sesaat setelah melihat dirinya yang kebingungan melihat dirinya membawa setoples kue cokelat.

Leen menggeleng pelan, “aku tidak tahu.”

“Dan pasti kau tidak peduli, kan?” tebak Leona yang membuatnya sedikit geram. Tapi, ada benarnya juga.

“Asalkan itu kue, apalagi kue cokelat dan keju, apalagi gratis dan hanya untukmu seorang, Park Leen, kau tidak peduli siapa yang memberimu itu, kan?” tebak Miju yang dibalas anggukan dari Leona.

Ia tidak peduli, itu benar.

Tapi ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Apalagi pasca dirinya menang dari lomba debat ekonomi tingkat nasional. Bukannya Leen tidak peduli, tapi ia tahu siapa yang mau-maunya memberikan setoples kue beserta kotak susu cokelat di lokernya.

Dan dia sedang tertawa di bangku pojok ruang kelas bersama beberapa temannya.

“Ternyata kau sudah potong rambut, ya?”

“Kau sudah ingat rupanya?”

“Sedikit.”

Yoon Jeonghan tersenyum. Ya, Leen ingat siapa pria yang-tak-dikenalnya-yang-menganggu-Sabtu-paginya ini. Dulu saat masih sekolah, ia hanya seorang pria yang kebetulan suka pelajaran Biologi dengan rambut panjangnya yang membuat heran satu sekolah. Siapa yang memperbolehkan seseorang berambut panjang masuk ke dalam lingkup sekolah berperan sebagai murid? Kecuali untuk orang tertentu.

Dan sampai sekarang Leen tidak tahu apakah Jeonghan termasuk orang tertentu atau bukan. Karena menurutnya itu tidak penting di masa lalu bahkan sekarang.

“Kau masih dingin seperti dulu, ya?”

“Apakah itu penting bagimu?”

“Dan kau masih tidak peduli seperti dulu, ya?”

“Hei, itu diskriminasi!” teriaknya tidak suka.

“Lalu kenapa kau juga tidak mau mengklarifikasi tentang maksudmu memberi kue-kue enak itu kepadaku?”

“Hmm… Kenapa, ya? Sudahlah itu tidak penting. Sekarang kau mau roti cokelat keju atau bermain di taman?”

“Tidak keduanya.”

“Hei, justru aku akan memberimu keduanya,” selorohnya dengan bangga.

“Hei! Kau mau kemana?” teriak Leen melihat Jeonghan sudah berdiri di ambang pintu kelas.

Jeonghan membalikkan badannya, “tentu saja aku akan pulang. Memangnya mau kemana lagi?” ujarnya justru bertanya balik.

Leen menelan ludah dengan sedikit kesal, “Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.”

“Apa?”

“Kau… Kenapa menaruh dua toples kue dan susu cokelat di atas mejaku saat itu? Dan kenapa kau juga menaruh setoples kue dan susu cokelat ke lokerku setiap hari?” tanyanya penuh penekanan di setiap kata. Dan Jeonghan dapat merasakan itu. Ia hanya tersenyum, lebar, “memangnya kenapa kau menanyakan itu kepadaku?”

“Karena ini menyangkut hidupku!” teriaknya berharap Jeonghan memberinya secercah jawaban atas teka-teki yang ia simpan selama beberapa minggu belakangan ini. Memberinya secercah harapan karena dirinya sudah menjadi korban bully oleh suatu kelompok di sekolahnya. Meskipun hal tersebut sudah ia selesaikan sejak insiden pelemparan ponsel milik Hana, terpaut dua minggu dari insiden pemberian kue secara terang-terangan.

Jeonghan menggeleng pelan, “maaf, aku tidak bisa menjawabnya kali ini.”

Lean menggenggam erat ujung roknya, “kenapa?”

Jeonghan tersenyum, kali ini lebih lebar, dan entah ia sadar atau tidak kali ini lebih tulus, “karena ini juga menyangkut hidupku.”

“A-apa?”

“Jadi, kau sudah tahu apa maksudku?”

“Jelaskan padaku, bodoh!” teriaknya mulai jengkel.

Jeonghan berdecak pelan dan Leen mendengarnya, “jangan membuatku emosi dan aku melakukan hal memalukan seperti yang kulakukan kepada Hana,” ucapnya mulai dongkol.

“Lebih baik kau pikir sendiri, Leen. Kalau ini menyangkut hidupmu pasti kau mulai menebak-nebak apa yang sudah kulakukan padamu,” ujar Jeonghan pelan.

Beberapa detik kemudian Jeonghan pergi meninggalkannya menyisakan Leen seorang diri yang frustasi dengan sikap Jeonghan tadi.

“Apa kau sudah paham apa maksudku saat itu?” tanya Jeonghan. Kini mereka tengah duduk di taman kota. Sebuah roti di tangannya sudah membentuk satu gigitan darinya.

Leen menatap Jeonghan dari samping, acuh tak acuh kepada Jeonghan dan hanya sesekali menikmati roti cokelat selai keju miliknya, “aku tidak sempat memikirkan itu,” ungkapnya jujur.

“Karena sibuk dengan rotimu?” Leen hanya mengangkat bahu untuk meresponnya.

Jeonghan terdiam. Memilih tidak meneruskan pertanyaannya. “Kau tahu, aku sudah mencoba melupakan kejadian itu dan mencoba fokus pada pendidikanku dan mengejar karirku sebagai dokter. Bahkan aku tidak sengaja memilih kuliah di Amerika untuk melanjutkan pascasarjanaku, yang tidak sengaja aku berharap untuk bertemu denganmu dan lagi-lagi aku harus melupakan itu. Aku sudah menjadi dokter bahkan kepala dokter divisi jantung di rumah sakit tempat aku bekerja. Sekarang pun aku juga sudah dikandidatkan menjadi direktur di rumah sakit itu, tapi sayangnya aku tetap saja mengingat kejadian itu dan tetap saja merindukanmu.”

Leen tetap diam tak memberi respon kepadanya.

Mata Jeonghan terpaku pada pemandangan wanita di sebelahnya ini. Teman sekolahnya. Cinta pertamanya. Bahkan, sepertinya akan menjadi orang pertama yang menolak lamarannya mengingat kejadian yang mereka alami saat masih sekolah.

“Kalau kau ingin tahu, kau adalah cinta pertamaku. Apa kurang gamblang?”

Leen masih bisu. Bukan tak mau menjawab, tetapi telinganya menunggu.

“Kalau aku melakukan hal itu kepadamu, apa kau akan menerimanya?”

“Kau hanya belum melakukan tindakan yang tepat,” jawab Leen. Akhirnya.

“Aku tahu, kau tipikal yang tidak menyukai adegan romantis. Tapi aku terkadang bingung apa yang harus kulakukan dan apakah aku akan mengikuti langkahmu juga?”

Tiba-tiba saja angin berhembus lebih kencang membuat beberapa anak rambutnya yang tidak dikuncir beterbangan berusaha menutupi wajahnya.  “Maksudmu? Amerika?”

“Akhirnya kau peka juga.”

“Padahal aku tidak menuntutmu seperti itu. Padahal kau sedang ada…”

“Apa aku harus mengikutimu juga?”

Wanita itu membisu. Jeonghan sudah gila rupanya.

“Kau tak bertanya kenapa Amerika? Kenapa aku tiba-tiba menemuimu setelah sepuluh tahun?”

“Bukan itu.”

Jeonghan menghela napas berat. “Sepertinya aku berlari dan kau pun menjauhiku lagi. Yah, sepertinya ini penolakan darimu untuk kesekian kalinya.”

Bukan itu yang dimaksud Leen. Jujur, bukan itu. Tapi Jeonghan sudah menangkapnya, salah paham. Dan ia harus berpikir bagaimana untuk memperbaikinya.

“Sayangnya aku bukan anak teroris buronan tempat kerjamu itu. Aku tak bisa merakit bom. Aku hanya bisa merakit jantung seseorang agar tetap hidup dan membuat roti supaya wanita di sebelahku ini mengerti apa maksud dari tindakanku ini,” ujar Jeonghan pelan membuat Leen sedikit tertohok.

Salah. Bukan. Bukan itu maksudnya. Bukannya Leen tidak menyukai Jeonghan. Ia hanya ingin memberi pria itu kesempatan. Tapi tak bisa mengatakannya. Bagaimana ini?

“Tunggu, tapi aku juga tidak mau menjadi pasangan dari seorang anak yang suka menilai gizi makanan teman-teman sekelasnya. Seperti tidak ada kerjaan. Isn’t my style!

Jeonghan tertawa lalu tersenyum, “berarti kau menerimaku?”

“Apa kau tidak mendengar ucapanku?”

“Kau masih ingat kejadian itu ya, ternyata?”

 

Aku tidak mau kejadian di Sabtu pagi ini hanya berjalan biasa saja. Kalau saja kau tidak datang tiba-tiba di depan rumahku dan memberi tahu tentang masa lalu kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s