To Fall In Love Again (Sequel Same)

to fall in love again

To Fall In Love Again

by ravenclaw

Hong Jisoo (SVT) & Kim mari (OC) | Fluff, Romance, College Life, Friendship | Teen | Vignette

Same

“nyatanya, Joshua masih tetap sama, membelakangi matahari.”

-o-o-o-

Namaku Kim Mari, biasa dipanggil Mari. Aku seumuran dengan kembaranku, Kim Taehyung. Aku dan Taehyung lahir di hari, bulan, dan tahun yang sama. Yang beda hanya waktu kami dikeluarkan dari perut ibu kami, hanya berselang sekitar satu menit. Dan bisa ditebak siapa yang keluar duluan, yaitu aku.

Aku tidak pernah menyangka kalau aku mempunyai seorang kembaran laki-laki yang sama sintingnya dengan aku. Kami berdua sejak kecil sering ditinggal oleh kedua orang tua kami, yang menyebabkan kami bisa menguasai rumah sepenuhnya dengan sesuka hati kami. Kami sering bikin keributan sampai-sampai tetangga sekitar memandang kami sebagai parasit bagi anak-anak mereka. Itulah yang menyebabkan ibuku keluar dari pekerjaannya dan lebih memilih mengurus kedua anak kembarnya yang nakal.

Sebagai gantinya, di saat kami menginjak usia tujuh tahun, saat kami masih kelas satu sekolah dasar, ibu membuat sebuah pakaian dari hasil beliau mempelajari selama masa beliau sekolah dulu. Ibuku terbukti sebagai desainer yang hebat karena mampu mengimbangi mode yang ada saat ini. Terbukti dengan seringnya beliau menyuruhku mengurus website yang sudah aku kelola sejak beliau menyombongkan diri untuk membangun sebuah butik di kawasan elit di daerah Gangnam.

Sedangkan ayahku, maksudnya kami, masih tetap bekerja di kantornya sebagai manajer. Ayah sering sekali membawa tamu yang tidak penting, menurutku, ke rumah kami hanya untuk membahas perusahaan, perusahaan, dan perusahaan. Katanya, ayah sering sekali diajukan sebagai direktur utama di perusahaan tersebut. Namun, ayah menolaknya. Alasannya hanya sederhana, beliau tidak mau mengorbankan waktu luangnya untuk keluarga hanya untuk mengurus perusahaan sebagai pimpinan tertinggi.

Ayah diajukan jabatan tersebut sekitar dua tahun sebelum kami memasuki kampus incaran kami, yaitu saat kami menduduki akhir kelas satu sekolah atas. Taehyung hanya mengangkat bahunya dan aku hanya mengucapkan kata, “terserah ayah saja, ini kehidupan ayah yang tidak pernah kami tahu dan tidak ingin kami tahu.”

Lancang? Iya.

Kurang ajar? Memang.

Tapi itu adalah kenyataan. Aku dan Taehyung tidak pernah mau tahu dan tidak akan pernah tahu kehidupan ayah dalam urusan pekerjaan. Kami bukanlah penerusnya yang baik untuk menggantikan posisinya di kemudian hari. Kami hanya menyukai sikap dan sifat ayah terhadap kami, bisa menyesuaikan kami yang berstatus sebagai anaknya. Dan ayah tidak pernah bertanya mengapa kami tidak terlalu mengusik kehidupannya, maka ia menolak tawaran tersebut dan menjalankan kewajibannya sebagai ayah yang baik hingga saat ini.

Taehyung, kembaranku yang sama gilanya denganku, merupakan mahasiswa dari fakultas kesenian jurusan seni teater. Sebenarnya saat tes masuk kampus, aku pernah menyarankannya untuk masuk fakultas kedokteran tapi sebelum aku menyelesaikan kalimatku, ia menolak mentah-mentah ideku. Ia tidak akan pernah sanggup masuk ke fakultas yang katanya memiliki passing grade tertinggi dalam sejarah perkampusan hanya karena ia takut darah.

Sedangkan dalam pertunjukan teater ia lebih sering mendapatkan peran yang menimbulkan adegan berdarah. Tak jarang aku sering melihatnya bisa menghayati perannya yang padahal setahuku mendapatkan adegan yang ia benci, yaitu darah.

“Kenapa kau menyerahkan peran aneh itu kepada orang yang aneh juga, Mimi?” tanyaku pada sutradara teater, Mimi. Satu angkatan dengan Taehyung di jurusannya.

Gadis itu hanya tertawa lalu menjelaskannya sembari menyuruhku untuk membaca naskah yang sering ia bawa untuk memukul kepala siapa saja yang membuat kesalahan dalam teater yang ia bawa, “kau tahu kenapa aku sering memilih Taehyung dalam peran ini? Karena menurutku ia pantas untuk menghayati peran ini dan membawa pesan dalam perannya,” ujarnya.

Aku hanya tertawa saat itu lalu membalasnya dengan sedikit sindiran untuknya, “kalau kau cukup pintar dalam menentukan siapa yang akan memerankan peran tersebut, kenapa kau tidak cukup baik untuk menangkap maksud dari ia yang mau-mau saja memerankan peran aneh itu?” dan sudah kuduga kalau wajahnya akan memerah dan lalu pergi meninggalkanku kemudian menyuruh orang lain untuk segera membereskan sisa pertunjukan teater.

Ah, iya aku.

Aku adalah salah satu mahasiswa juga yang satu kampus dan satu angkatan dengan Taehyung. aku berbeda jurusan dengannya. Aku ambil jurusan teknik informatika dari fakultas teknik. Aku tidak tahu sedang kerasukan apa aku dalam menentukan masa depanku di salah satu jurusan yang katanya mampu banyak orang terkagum dan pusing setelah dijelaskan bagaimana cara mengoperasikannya.

Tidak hanya itu, selain mengejar impianku untuk tetap bertahan hidup dalam kelasku itu, aku juga dianggap sebagai kartu as dalam jurusanku. Aku dianggap mampu melampaui pemikiran kakak tingkatku. Maka dari itu, aku sering diajukan sebagai peserta lomba oleh dekan jurusanku. Dan sampai sekarang aku tidak tahu kenapa harus aku yang dimasukkan dalam setiap lomba yang ada yang membuatku sering bertemu dengan berbagai peserta dari kampus lain dan menghabiskan waktuku untuk berdiskusi dengan orang-orang yang notabene lebih tua dariku.

Bukan hanya itu saja, aku juga ditunjuk sebagai Ketua UKM Fotografi yang ke-24 setelah berhasil mengalahkan Choi Siwon, Ketua UKM Fotografi sebelumnya. Entah dia ketua UKM yang ke berapa aku tidak tahu, yang penting ia dianggap sebagai legend di UKM Fotografi. Tapi itu hanya bertahan beberapa tahun kemudian setelah aku mampu mengalahkannya dalam lomba yang tentu saja diadakan oleh UKM-ku yang saat itu aku masih dianggap sebagai anggota.

Aku tidak tahu Choi Siwon masih menyimpan dendam padaku akibat kekalahannya hingga saat ini, tapi yang terpenting aku mampu membawa UKM yang kupimpin ditunjuk sebagai tema dari acara yang baru saja selesai diselenggarakan beberapa minggu yang lalu.

Seseorang memintaku untuk mengizinkan UKM Fotografi sebagai tema dari acara yang katanya terbesar dalam sejarah perkampusan Korea Selatan. Saat itu aku masih sibuk mengejar kelasku karena ketinggalan banyak materi akibat aku mengikuti lomba robotik, jadi permintaan itu hanya disaksikan oleh Jina dan Naya saat itu.

“Aku dan Naya habis bertemu dengan Jisoo untuk membicarakan UKM kita, aku tidak sempat mengajakmu soalnya kan kau sedang ada kelas,” jelas Jina sewaktu aku baru saja keluar kelas. Naya mengangguk-anggukkan kepala untuk memperkuat pernyataan dari Jina.

Ini bukanlah masalah yang sepele. Seseorang memintaku, melalui sekretaris dan wakil ketua yang aku percayai, untuk menjadikan UKM sebagai  tema dari acara yang harusnya menjadi tanggung jawab dari BEM.

Tetapi justru aku melongo saat itu, karena yang kutahu yang namanya Jisoo adalah seorang perempuan dari fakultas hukum. “Sejak kapan Kim Jisoo jadi ketua BEM?”

Jina justru menggeleng cepat, “bukan! Bukan Kim Jisoo kesayangan Myungsoo sialan itu! Tapi Hong Jisoo, dia anak fakultas MIPA, kakak tingkat kita.”

Yang ada di pikiranku saat itu adalah, sosoknya. Sosoknya yang sering melindungiku dari kejahilan teman-teman kecilku, sosoknya yang selalu mengajariku bahasa inggris, sosoknya yang selalu menemaniku bermain gelembung-gelembung sabun yang kami curi dari ibu kami, sosoknya yang sering memohon untuk membagikan biskuitku kepadanya, sosoknya yang seperti ayah, sosoknya yang sudah meninggalkan janji manisnya kepadaku delapan tahun yang lalu.

Dan sosok itu kini tengah menepuk bahuku. Tersenyum saat aku membalikkan badanku, tidak fokus pada kamera yang aku bawa saat ini. Dari tempat ia berdiri berlatarkan cahaya matahari, aku baru sadar ia terlihat tampan dari posisinya, backlight. Andai saja aku bisa memotretnya, akan aku potret rupanya saat ini juga. Sayangnya, aku hanya fokus pada senyumnya yang masih sama, seperti saat itu. Saat dia melindungiku dari kejahilan teman-teman kecilku.

“Ah, kau sudah selesai dengan kegiatan UKM-mu?” aku hanya mengangguk saja dan kedua mataku masih fokus pada kedua sudut bibirnya yang melengkung ke atas.

Kali ini senyumnya semakin lebar, “kalau begitu, ayo kita pergi. Kau tidak lupa, kan, dengan janji kita lusa kemarin?” sekali lagi aku mengangguk lalu pergi meninggalkannya untuk mengambil dan membereskan barang-barangku.

“Aku pergi dulu!” teriakku sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan lokasi pemotretan. Jina dan Naya mengangguk sembari mengangkat jempol mereka karena masih disibukkan dengan kamera masing-masing.

“Jangan lupa fotonya dikirim!” teriak Sewon sembari memamerkan senyum jahilnya. “Sudah aku kirimkan sebelumnya kemarin lewat e-mail,” balasku. Sewon hanya tertawa puas setelah berhasil menggodaku di depannya. Sial.

Aku berjalan menghampirinya lalu kami berjalan beriringan menuju parkiran fakultas kedokteran. Kami saling diam satu sama lain. Aku sibuk membenarkan letak tas kamera di salah satu pundakku dan Joshua tidak tahu ia sedang apa. Kupikir ia sedang melihatku yang kesusahan membawa tas kamera yang sedikit berat ini.

“Perlu kubantu?” aku menggeleng cepat. Hal ini sudah biasa bagiku dan ia memahaminya.

“Kau benar-benar sibuk ya?” tanyanya sekedar basa-basi.

Aku mengangguk lalu mendongak kearahnya, “kau juga, Josh,” ungkapku jujur.

“Setidaknya kita masih bisa untuk bertemu,” balas Joshua, tak dipungkiri kami saling menahan senyum kami.

Tak lama kami tiba di parkiran. Joshua membuka pintu mobil bagian sopir, begitu juga denganku. Tak lupa kami memasang sabuk pengaman. Beberapa detik kemudian mobil yang dikendarainya sudah berada di kawasan jalan raya. Samping kanan jalan adalah sebuah sungai besar.

Kini aku menatap langit biru yang tertutupi sekat-sekat awan putih tipis. Terang. Cerah. Kalau saja aku tidak melewati hari-hari yang penuh dengan perdebatan dengannya kala itu, mungkin aku tidak akan bisa bersamanya, duduk di sampingnya seperti ini di hari ini.

Masih teringat saat aku menunggunya di kafe, hari dimana aku berjumpa dengannya untuk pertama kalinya setelah delapan tahun. Yang aku ketahui saat itu aku tengah berpikir kalau aku sedang bermimpi tentangnya. Mungkin aku memimpikannya yang tengah duduk di depanku sembari mengumbar senyuman khasnya gara-gara meminum segelas black coffee dan mengenang masa kecilku dengannya. Tetapi di situ aku mulai membencinya, mengecapnya sebagai pembohong, egois, dan entah sebagainya.

Jina pernah berkata padaku seperti ini, “jangan pernah membawa perasaan dalam pekerjaan. Itu akan membuatmu frustasi.”

Dan perkataan Jina memang benar-benar terbukti. Aku frustasi setiap kali melihatnya yang sedang menatapku, aku gila setiap kali ia berbicara kepadaku tentang persiapan acara kemarin, aku membencinya ketika aku melihatnya ia terlihat begitu tenang dalam menghadapi situasi ini yang terjadi pada kami.

Aku benci ketika kenangan masa kecilku sekelibat terlintas dalam pikiranku. Aku benci saat aku tidak sengaja bertemu dengannya di luar rapat pertemuan kami. Aku benci saat kami sama-sama terkenang oleh masa lalu kami melalui kejadian yang membuat kami tak sengaja bertemu.

“Kita sudah sampai, Mari!” ujar Joshua sembari melepaskan sabuk pengamannya. Aku mengangguk mengerti. Dan saat aku melepas sabuk pengamanku dan membuka pintu untuk keluar melihat pemandangan yang disuguhkan di depan, aku teringat senyum Jina kepada Vernon saat pria bule itu meminta sepotong roti yang dibawa olehnya.

Aku masih ingat teriakan Jina menolak membagi roti bersama Vernon. Tak lama kemudian Vernon cemberut lalu Jina memberikan sebagian roti untuk pria itu dan mereka tertawa bersama. Mereka berdua tidak menyadari kalau aku juga ada di sana saat itu. Dan aku tidak tahu kalau Joshua juga ada di sana, di seberangku, di lorong yang sama juga.

Aku tak sengaja menatapnya dari kejauhan. Melihatnya yang sama kagetnya denganku akan kejadian yang ada di depan mata kami. Dan melihatnya bermandikan cahaya matahari yang membuatnya berdiri dalam bayangannya, backlight.

“Pasirnya benar-benar putih, ya?” aku mengangguk tersenyum menanggapinya lalu menikmati semilir angin yang menggelitiki sebagian kulitku. Saat aku membuka mata untuk melihat pemandangan pantai, aku teringat tentang keributan kecil dalam rapat acara yang kami jalani sebelumnya. Aku masih ingat alasan dibalik keributan tersebut, karena Joshua ingin mengubah struktur lapangan yang berarti mengubah struktur laporan yang sudah kupresentasikan dan disetujui olehnya.

Aku menggebrak meja rapat dan menuntut Joshua dengan tidak sopannya. Aku mengata-ngatainya tanpa ampun saat itu. Aku tidak terima dengan tindakannya yang termasuk gegabah. Karena acara akan dimulai sebulan lagi saat itu. Berkat itu semua namaku dan Joshua semakin terkenal. Dan aku kena imbasnya, nama baikku tercemar dan sebagian orang mengejekku sebagai pembangkang.

“Hei, kenapa kau melamun saja?” aku menatap Joshua kesal. Ia sudah menyipratkan air ke mukaku. Aku berlari mengejarnya, berusaha membalasnya dengan lemparan pasir yang ada di genggamanku. Dan pada saat itu juga aku teringat tentang pertemuan-pertemuan kami di masa lalu.

Selalu, ia selalu menatapku, berdiri dari kejauhan, lalu berjalan di depanku tanpa sadarnya. Selalu, ia selalu berdiri membelakangi cahaya, seolah menghalangi sinarnya, lalu berjalan menuju cahaya dan menghilang entah kemana. Selalu.

Setiap aku bertemu dengannya di koridor, lapangan, perpustakaan, kantin, maupun ruang rapat, ia selalu berdiri dalam bayangannya. Berdiri membelakangi sinar matahari.

Kenapa?

Apakah ini disengaja olehnya?

Apakah ini konsepnya setiap kali ia ingin memunculkan dirinya di depan mataku?

Tiba-tiba sebuah uluran tangan menyambutku. Aku mendongak, menatapnya dalam. Kali ini ia benar-benar berdiri membelakangi cahaya, seolah melindungiku dari panas sinar matahari.  Aku menatapnya sekali lagi lalu menatap uluran tangannya, salah satu jarinya terlilit sebuah cincin yang sama di salah satu jariku.

Aku tersenyum, menerima uluran tangannya lalu aku berdiri setelah ia menarikku.

“Ayo, kita pulang,” ajaknya. Ia masih menggenggam tanganku dari uluran tangannya tadi.

Kami berjalan beriringan menghampiri mobil sedannya. Sampai akhirnya aku menghentikan langkahku dan menatapnya. Ia membalikkan badannya menghadapku dan membalas tatapanku. Lagi-lagi ia membelakangi cahaya.

“Josh, aku ingin bertanya,” ia mengangguk mempersilakan.

“Kenapa, kenapa kau setiap kali kita bertemu, kau selalu berdiri membelakangi cahaya?” tanyaku sedikit ragu.

Joshua tersenyum, “memangnya kenapa?”

“Apa kau melakukannya dengan sengaja?” ia menggeleng.

“Apa kau memiliki konsep untuk bertemu denganku dengan berdiri membelakangi cahaya seperti saat ini?”

Kali ini ia tertawa kecil lalu menggeleng, “tidak, aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Dan apa? Ah, iya, aku juga tidak bermaksud untuk memiliki konsep seperti ini setiap kali kita bertemu. Dan aku tidak sengaja untuk soal ini,” ujarnya tenang.

“Lalu…”

Aku menatap tanganku yang bebas dari genggamannya. Tersemat sebuah cincin pemberiannya di jari telunjukku.

“Untuk cincin yang kau berikan padaku saat kita bertemu di kafe, apa kau melakukannya dengan tidak sengaja juga?” tanyaku lagi.

Kali ini ekspresi Joshua berubah lalu kembali seperti semula sedetik kemudian. Ia menggeleng. “Tidak, aku melakukan ini dengan sengaja. Sesuai dengan rencanaku saat itu.”

Aku mengangkat salah satu alisku, bingung dengan maksud ucapannya tadi. Rencana.

“Saat kau mengirimiku e-mail, aku tidak berada di area kampus. Aku sedang di toko perhiasan untuk membeli cincin kita ini,” jelasnya tanpa kuminta.

Aku mengangguk mengerti. “Lalu,” aku kembali mendongak menatapnya, “apa kau benar-benar akan serius denganku, seperti apa yang kau diucapkan saat kau memberiku cincin ini?”

Joshua tidak menggeleng dan tidak mengangguk. Kami terdiam satu sama lain sembari menatap satu sama lain hingga akhirnya Joshua yang membuka suara. “Satu bulan lagi aku akan mendatangi rumahmu bersama kedua orang tuaku. Nanti kita akan membahas apa yang selanjutnya kita lakukan untuk ke depannya nanti.”

Tidak sengaja mulutku membuka dan aku hanya melongo saat itu.

Joshua kali ini tersenyum sembari mengelus puncak kepalaku dengan lembut, “benar seperti ucapanmu tadi, aku benar-benar sibuk. Dua bulan lagi aku akan wisuda dan aku masih sibuk menyelesaikan skripsiku pada bab akhir. Semuanya sudah mendapat persetujuan dan tinggal penentuan kapan aku akan disidang. Kalau perkiraanku benar, aku akan diwisuda pada bulan Oktober nanti.”

“J-jadi, kapan kau akan disidang?” tanyaku sedikit gugup.

“Kata pembimbingku satu minggu lagi, kata dekanku dua minggu lagi, aku tidak tahu yang mana yang benar. Tetapi yang pasti, setelah aku menyelesaikan sidangku, aku akan mendatangimu bersama kedua orang tuaku.”

Tanpa sadar hawa disekitarku memanas dan kedua pipiku juga menghangat. Entah seperti apa rupaku selain memerah, tetapi yang terpenting disini aku sangat malu saat Joshua menatap wajahku saat ini.

“Jadi, kumohon sedikit bersabar, ya, dan persiapkan dirimu baik-baik,” ujarnya masih menahan senyum lebarnya. Aku tahu kalau ia menahan geli saat melihat wajahku yang kuyakini sudah semerah kepiting rebus. Jadi aku langsung memukul dadanya dan mendorongnya sedikit menjauh dariku.

“Ayo pulang, bodoh! Jangan menggodaku terus! Aku ingin makan!” seruku sebal sembari menyembunyikan wajahku.

Kemudian ia tertawa lalu menarikku untuk berjalan di sampingnya, “Oke, Nyonya Hong Mari, kita akan mencari makan. Kau mau makan apa, Nyonya Hong Mari? Nasi? Sup? Atau  es krim?”

“Jangan memanggilku seperti itu, Hong Jisoo!”

 

END.

Untukmu yang nun jauh di sana, sekali lagi aku menunggumu, di tahun yang kesembilan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s