Johhny Seo

13320166_1695899833998215_2092759557_n

Johhny Seo

by Ravenclaw

Johnny Seo (NCT), Kim Lean (OC) | Fluff, Hurt, AU, College Life | Teen | Vignette

 

“tanpa sadar ia membutuhkannya.”

-o-o-o-

Biarkan Lean menyendiri di ruang kamarnya. Malam menyerang sejak beberapa menit yang lalu yang sebentar lagi pertanda ibu akan memanggilnya untuk turun ke bawah, makan malam bersama. Tetapi sayangnya, rumah sedang sepi. Ayah sedang pergi mengikuti rapat hingga esok subuh sedangkan ibu sedang sibuk mengurus nenek di kota lain.

Jadi, biarkan Lean menyendiri.

Masa bodoh dengan ponselnya yang berdering sejak tadi, notifikasi yang tidak penting, menurutnya. Mungkin notifikasi dari grup Line, pikirnya. Dan memang benar tebakannya tersebut.

Dan, masa bodoh dengan Ilyanna yang sedari tadi sibuk membicarakannya di grup, menyuruhnya untuk ikut acara makan malam bersama setelah acara selesai.

Acara?

Oh, ia hampir lupa kalau kemarin baru saja ia menyelesaikan sebuah acara besar di kampusnya yang melibatkan sebuah boygroup untuk menjadi bintang tamu dari acaranya tersebut.

Dan masa bodoh juga tentang Rin yang menanyainya apakah ia sudah selamat sampai rumah. Pasalnya setelah ia kumpul di gedung pertemuan di kampusnya, ia diantar pulang oleh Johnny.

Dan soal pria itu, iya, benar, pria itu yang membuatnya mengurung seorang diri di kamarnya.

Bukan, pria itu tidak melakukan pelecehan terhadapnya, atau modus mengantarnya pulang lalu mencopet beberapa barang benda elektronik kesayangannya. Dia tidak seperti itu, percayalah.

Tak lupa juga sepasang kekasih yang masih belum berani mendeklarasikan hubungan mereka, Ilyanna dan Taeyong, juga tanya soal apakah benar Johnny yang menawarkan diri untuk pulang bersama sampai-sampai menyebabkan seluruh anggotanya harus tinggal lebih lama di gedung pertemuan akibat kelakuan Johnny kepadanya.

Mana bisa ia menolak kebaikan yang ditawarkan kepadanya? Apalagi kepada orang yang sudah ia kenal sebagai teman cukup dekat dan cukup membuatnya nyaman selama beberapa minggu belakangan ini. Ia masih memikirkan harga diri kalau untuk soal ini.

Ingin sekali rasanya ia meminta maaf kepada Taeyong dan seluruh anak buahnya karena kelakuan Johnny yang membuatnya, mau tidak mau, menerima tawaran untuk mengantarnya pulang. Tetapi apa daya, jika sudah menyangkut soal pria bermarga Seo itu rasanya ia malas melakukannya.

Johnny Seo, ya?

Ah, pria yang membuatnya nyaman, sejak mereka tak sengaja bepergian bersama dari Seoul menuju Busan, membuatnya ia rindu tertidur di dada bidang miliknya. Juga pria yang membuatnya bingung, setelah ia mendapatkan kembali ponsel dengan fitur dan spesifikasi yang lebih baik dari ponsel sebelumnya. Hadiah darinya katanya, sebagai pengganti ponselnya yang sudah tidak bisa digunakan sekaligus sebagai tanda maaf telah berbuat kasar kepadanya.

Sekaligus pria yang membuatnya gelisah setiap saat, setiap waktu, setiap pria itu berada di sekitarnya.

Bukan gelisah yang tidak baik, justru gelisah yang ia rasakan sendiri dalam getaran jantungnya yang selalu berdetak lebih cepat dari biasanya.

Lean sedang apa?

Lean sudah makan?

Lean bisakah kita jalan seperti lusa kemarin?

Selalu, ia bingung hendak menjawab apa. Selain ia memberi kabar kepada pria jangkung itu. Tak habis pikir olehnya, kenapa pria itu mau-maunya saja dekat dengannya, tersenyum manis kearahnya, dan mengkhawatirkannya. Terlebih Johnny sangat tahu kalau ia bisa asma dalam ruang yang sempit sekaligus minim oksigen.

Ia hanya, hei, ia hanya seorang gadis berperawakan seperti anak kecil, gadis yang terlalu cepat mengambil kuliah di saat usianya harusnya sedang menikmati masa-masa sibuk mencari perkuliahan, juga gadis yang sering seenaknya sendiri yang selalu membuat semua orang di sekitarnya geger karenanya.

Ia hanya gadis biasa. Tidak lain.

Dan ia hanya gadis biasa yang baru merasakan nyamannya berada di dekat pria yang baru ia kenal tak lama ini.

Lean tidak memikirkan hal lain selain berdamai dengan hatinya lalu dekat pria yang sempat membuatnya takut berlebihan hanya karena kecerobohan darinya. Lean bersifat terbuka kepada semua orang.

Tetapi tidak untuk yang satu ini.

Tidak saat dirinya turun dari mobil dan segera masuk ke gerbang menuju rumahnya dan tanpa ia ketahui kalau Johnny sudah merencanakan hal ini sebelumnya, memanggilnya dengan lembut, menatapnya dengan tajam tetapi sarat penuh makna, dan terdiam membisu hingga membuatnya salah tingkah di depan pria jangkung itu.

Sampai akhirnya, di detik kedua puluh, Johnny Seo, mengucapkan beberapa kalimat yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

“Lean, aku tidak mau hubungan ini berakhir begitu saja. Aku ingin hubungan ini berlanjut.”

Dua kalimat sederhana yang langsung ia tangkap dengan cepat. Johnny sudah nyaman dengannya dan menuntutnya lebih dari sekedar yang mereka jalani.

Dan ia hanya terdiam sesaat sebelum ia hanya bisa menjawab, “beri aku waktu.”

Ia hanya seorang gadis yang terbuka kepada semua orang, tetapi tidak untuk yang satu ini. Biarkan ia pendam sendiri. Biarkan ia bingung sendiri. Dan biarkan ia terdiam cukup lama, sampai akhirnya ia mendapat satu jawaban, ia tidak mampu untuk menjalani lebih dari yang sudah ia jalankan.

Biarkan Lean menyendiri. Ia butuh sepi untuk menemaninya. Untuk mengetahui bahwa ia hanya seorang gadis biasa yang tidak sanggup menjalani hal yang diluar perkiraannya.

Biarkan likuid bening menghiasi kedua pipi putihnya, mencecap rasa asin di sudut bibirnya. Menyadari kesalahannya kepada pria yang sudah, tanpa sadar, membuatnya detak jantungnya bergetar.

Dan tanpa sadar Lean juga membutuhkan pria itu lebih dari apapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s