Wahai Orang Sombong

WAHAI ORANG SOMBONG

by ravenclaw

Hai, paman yang kusayangi

Bolehkah aku bercerita sesuatu padamu?

Kuharap kau bisa merenungi ini semua

Wahai paman yang selalu kubanggakan kala aku masih belum tahu dunia

Belajarlah hidup, itu kalimat pertamaku

Belajarlah menerima, itu kalimat keduaku

Belajarlah untuk ikhlas, itu kalimat ketigaku

Belajarlah untuk menerima apa yang terjadi

Seperti engkau yang menerima kala anakmu gagal kawin

Sekali-kali jangan untuk menjadi sombong

Setidaknya dihadapan kami, orang-orang yang memiliki hubungan darah denganmu

yang selalu kau katai

balung kere

Tentang semua yang terjadi, selalu kau menyalahkan amak abah yang sudah tidur tenang disana

Melalui perantara kakakmu, kau mengeluarkan kalimat sombongmu yang kau anggap biasa

Tetapi menyakitkan bagi kami

Menyalahkan takdir

Menyalahkan hidup

Menyalahkan kami yang selalu bersujud kepada-Nya

Mengatai kalau kami tak pernah beribadah, mengatai kami tak mau berusaha

Selalu meminta bantuan padamu yang merasa lebih dari kecukupan

Apa salahnya kami yang hidup sederhana meminta bantuanmu?

Hanya sedikit yang kami minta, tidak lebih

Separuh hartamu pun tak ada

Tetapi nyatanya, kau selalu berpikir

Rela atau tidak?

Ikhlas atau tidak?

Tulus atau tidak?

Wahai paman yang sombong

Belajarlah hidup dari kami, yang selalu turun langsung ke jalan

Merasakan teriknya mentari

Dinginnya angin

Juga penyakit yang selalu menyerang kami

Wahai paman yang entah memiliki hati atau tidak

Belajarlah untuk memahami dariku

Selalu mengadu pada yang Kuasa

Bukan pada yang sudah mati

Belajarlah untuk sopan

Bukan seperti anakmu yang selalu memamerkan paha dengan celana tak muat

Juga bukan seperti anakmu yang selalu memamerkan otot kala menggunakan baju tak berlengan

Juga bukan seperti engkau yang membiarkan omongannya kotor berlumur dosa

Wahai paman yang entah masih menganggapku atau tidak

Bisakah aku mengataimu rendah harga diri?

Bisakah aku mengataimu manusia yang tak punya hati?

Bisakah aku membandingkanmu dengan anjing di sana?

Bahkan anjing pun tidak akan sungkan untuk mengajak sesama mengobrol meskipun mereka berbeda kasta

Sementara anjing itu tak memiliki hati seperti manusia

Lalu bagaimana dengan dikau, paman?

Dikau yang pasti memiliki hati nurani?

Tega mengatakan kami seperti itu

Sombongnya kala kau mengunjungi rumahku kala kau melalui jalur selatan

Apakah pantas aku masih memanggilmu paman?

Apakah pantas aku tersenyum kala kau sudah berdiri di depan pintu bersama keluarga sombongmu?

Aku sebagai anak dari kakakmu

Sebagai cucu dari amak abah

Sebagai keponakan yang entah dianggap atau tidak

Aku merasa kecewa

26 Juli 2016

dari keponakanmu

Aini

 

Note :

kisah nyata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s