Permen

PERMEN

hanya sekedar untuk membunuh rasa bosan

Kali ini jam tangan Adidas milik Wonwoo sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi. Dirinya sudah berjalan menyusuri beberapa koridor kampus untuk mencapai sebuah kelas pagi yang akan ia hadiri.

Ikhlas?

Tentu saja tidak. Untuk apa bangun subuh-subuh kalau tidak untuk mengejar kelas pagi ini? Oh, tentu saja untuk menghindari repetan kedua orang tuanya juga memberi nilai baik dalam nilai prestasinya dalam semester awal ini.

Yap, dan untungnya ia tiba di kelas pagi ini seorang diri, sendirian. Sekali lagi, sendirian.

Apakah Wonwoo harus mengucapkan sumpah serapah demi apa yang ia lihat kelas kosong ini? Oh, tidak perlu, karena sudah ada beberapa mahasiswa yang sudah menepuk pundaknya dan menyapanya, “hai, Wonwoo,” yang ia balas dengan anggukan. Lihat tampang mereka, mereka juga tidak ikhlas kok untuk datang se-subuh ini demi mengejar kelas pagi.

Lebih baik bermain game daripada ikut kelas pagi.

Itu sih, motto entah dari siapa, tapi sepertinya itu juga tidak mempan bagi yang membuat motto itu. Kenapa? Karena nilai menghantui mereka. Sama halnya dengan dirinya, kecuali beberapa gadis centil yang kebetulan ikut kelas pagi dengan ceria dan senang hati demi melihat pria idamannya, salah satunya dirinya.

“Hai, Wonwoo,” dengan centilnya seorang gadis menyentuh pundaknya kala ia sudah mendapatkan bangku impiannya.

Reaksinya?

“Dasar centil,” ujarnya dengan sedikit sadis sekaligus tatapan tajam dan melanjutkan acara persiapannya menyambut mata kuliah yang akan ia hadapi. Kode kalau ia tidak ingin diganggu.

Hampir 30 menit mereka menunggu, bahkan sampai ada seseorang yang sudah duduk di sampingnya yang juga sedikit terburu-buru mengeluarkan peralatannya, akhirnya sang lakon masuk ke ruangnya.

“Selamat pagi.”

“Pagi…”

Dan tidak usah ditanya bagaimana kelanjutannya karena materi sudah mengalir dalam sebuah papan tulis di depan.

“Sst!”

Ditengah-tengah ia mengumpulkan konsentrasinya, ada seseorang yang sengaja menyenggol sikunya. Dengan wajah datar ia menoleh, ternyata seorang gadis yang datangnya paling terlambat ini yang tengah menyenggolnya sekaligus mendapat bangku persis di sampingnya.

“Apa?”

Tanpa menjawab gadis itu mengeluarkan beberapa permen dari kantong bajunya, menawarkan padanya secara diam-diam, “mau?”

Wonwoo mengangkat alis, sejenak berpikir apakah ia harus menerimanya atau tidak.

“Ini tidak beracun kok, aku juga sedang memakan permen ini,” ujar gadis itu yang masih tetap bertahan menawarinya permen.

Wonwoo tersenyum kecil dan mengambil dua buah permen tersebut, “boleh deh.”

“Tujuanmu memberi permen ini apa?” tanya Wonwoo setelah membuka bungkus permen pertamanya.

Gadis itu mengangkat sedikit kepalanya, berpikir, lalu berkata, “wajahmu terlihat bosan, aku jadi malas melihatnya. Jadi kuberikan saja permenku, kan, lumayan untuk menghilangkan rasa bosan,” gadis itu tersenyum miring, “see, this is work?”

Wonwoo mengangguk, tersenyum, “thanks…”

“Lee Ayana, itu namaku,” sambung gadis bernama Ayana itu.

Okey, thanks for your vitamine, Ayana Lee.”

“Sama-sama, Wonwoo.”

Sepertinya, ia harus sering-sering bersama gadis anti-mainstream pemberi vitamin ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s