Hidup

HIDUP

hidup ini tidak akan pernah berjalan lurus

by Ravenclaw

 

Pernah terlintas dipikirannya untuk tetap fokus dengan apa yang ada di depan, mengabaikan sekitarnya. Tidak peduli dengan apa yang terjadi, seperti, yeah, ibunya yang sering berbohong kala ditanya soal seseorang yang sering mengantarkannya pulang dari kantor. Atau juga ejekan yang melekat dan kalau dipikir-pikir memang benar faktanya, anak haram, anak yang lahir diluar nikah.

Bodoh amat, pikirnya. Ia sudah bosan meladeni semua itu, muak. Semboyannya, kalau ada yang mengganggu harus dibalas, kini sudah berubah. Jalani hidup yang ada tanpa peduli apapun, itu sembiyannya saat ini.

Tetapi semuanya berubah.

Kenapa?

Saat itu ia asyik mengerjakan tugas salah satu mata kuliahnya di kamar. Sengaja ia hidupkan televisi supaya terlihat ramai. Tidak tahu channel apa yang sedang ia dengarkan tetapi ia hanya mendengar seorang anchor wanita tengah membacakan berita dengan khidmat. Semuanya biasa saja, sampai akhirnya ia mendengar sesuatu yang familiar. Tidak, ia tidak pernah mendengarnya beberapa kali, hanya sekali dari seseorang yang sering mengganggunya.

Pada hari Rabu, lusa, wakil presdir Samsung, Min Jae Ha, telah ditangkap polisi dengan tuduhan penggelapan dana proyek. Hal ini juga diperkuat dengan kesaksian langsung dari pihaknya serta bukti yang telah terkumpul di tempat…

“Kau tahu? Ayahku bekerja sebagai wakil presdir perusahaan ponsel terbesar di Korea Selatan.”

DEG!

“Yoo-Yoongi…”

Itu adalah ucapannya sebelum ia menelepon lelaki itu yang berakhir dengan ia yang terduduk di salah satu kamar rumah sakit umum Seoul. Terakhir ia mendengar erangan menahan sakit dan jatuhnya benda keramik, membuatnya kerepotan mencari sang pemilik suara itu. Ia juga mendengar penjelasan dari dokter yang menanganinya, bahwa suhu tubuh Yoongi melebihi dari suhu normal yang disertai mual dan pusing yang hebat. Dari penjelasan itu, Naya menebak kalau Yoongi terkena anemia akibat kurangnya istirahat. Ia tahu kalau dirinya bukan siapa-siapa dari pria pengganggu itu, maka saat dokter itu keluar ia segera menghubungi seseorang. Entah siapa yang penting memiliki hubungan penting dengan Yoongi.

“Kau temannya kak Yoongi?” merasa dirinya diajak berbicara, Naya mengangguk kecil. Ternyata gadis itu sudah selesai berurusan dengan Yoongi.

Gadis itu mendudukkan diri di sampingnya, tersenyum, “terimakasih sudah mau merawat kak Yoongi selama ini,” jujur saja, lidahnya kelu untuk menyatakan yang sebenarnya. Tetapi demi adik kandung dari Yoongi, ia mengangguk kecil, “ya, sama-sama.”

“Awalnya biasa saja, semuanya baik-baik saja. Sampai akhirnya titik jenuh dirasakan kak Yoongi. Ia merasa tersiksa tinggal di rumah kami, ia dipaksa untuk mengikuti kemauan ayah maupun ibu. Kak Yoongi memberontak, mengamuk kala keinginannya tidak dipenuhi. Awalnya aku merasa tidak mengenalnya, ia benar-benar berbeda. Tapi akhirnya aku tahu, itu salah satu bentuk protesnya pada ayah dan ibu. Ia ingin menjadi anak biasa, hidup bebas. Bukan sebagai Min Yoongi yang akan mewarisi harta dari Min Jae Ha dan Park Sona.”

Naya memiringkan kepala, alisnya bertaut, “lalu?”

Gadis itu, Aeri, menoleh padanya, matanya berkaca-kaca, “ayah mengusirnya.”

“…”

“Saat itu ayah benar-benar marah, sampai-sampai ia ditampar hingga menimbulkan luka. Akhirnya ayah menyuruh kak Yoongi pergi dari rumah.”

“Jadi ia menyewa apartemen dengan…”

Aeri menggeleng pelan, “ibu membelikan apartemen untuk kak Yoongi. Ia sudah mempersiapkan itu semua. Dan biaya sehari-harinya memang dari ayah, tapi yang menyuruh untuk mengirimnya biasanya antara aku dan ibu.”

Naya menggenggam lengan Aeri, erat. Merasa ikut bersimpati. “Maaf.” Aeri menggeleng, pertanda itu semua tidak apa-apa.

Yeah, setidaknya aku tidak perlu khawatir lagi,” Aeri meliriknya, masih tersenyum, “karena sekarang sudah ada yang mau menjaganya.”

Jika ia ditakdirkan tidak memiliki sebuah organ bernama hati, mungkin mulutnya sudah berbicara hal yang sebenarnya bahwa dirinya dan Yoongi tidak memiliki hubungan apapun, bahkan teman sekalipun.

Semua ini berkat Yoongi. Pria yang dilabeli dengan kata pengganggu diakhir panggilannya, sukses membuatnya kebingungan mencari bantuan. Dan sialnya lagi, ia juga harus repot mencari keberadaan pria Min itu yang posisinya melebihi dugaannya. Jadi, ia tidak salah kan kalau dirinya mengatakan ini semua bermula dari Min Yoongi?

Yoongi yang mendekatinya, mencari perhatian dengan gaya sok cool, menganggap dirinya mempunyai hubungan dengannya melebihi dari teman kampus, Ia tidak pernah mengharapkan ini, sama sekali. Tetapi pada akhirnya Naya hanya bisa pasrah mengikuti alurnya.

“Kak?”

Naya menegapkan badannya, melihat Aeri sudah berdiri di depannya, “mau pulang?” gadis kecil itu mengangguk.

“Perlu kuantar?”

Aeri menggeleng, “aku sudah dijemput, kok.”

“Ah, baiklah. Hati-hati di jalan,” Aeri mengangguk atas ucapannya, hanya itu yang bisa ia katakan, saat ini.

Naya kembali masuk ke kamar, saat dilihat ternyata Yoongi sudah merubah posisi yang semula lurus-lurus saja, manjadi sedikit menyamping ke kanan. Yoongi sudah sadar. Ia duduk di samping kasur tersebut.

“Kau tahu? Adikmu tadi datang menjengukmu.”

“Aku tahu.”

Naya tidak kaget, hanya saja sedikit tidak menyangka kalau pria itu masih bisa mendengarnya.

“Tidak kaget?”

“Posisi tidurmu sudah menjelaskannya,” Yoongi mengangguk lemah lalu membetulkan posisinya kembali.

“Kau dapat nomor Aeri dari…”

“Aku mencari di ponselmu, maaf kalau tidak sopan,” potongnya, sedikit sarkastik.

Yoongi mengangguk lagi, kali ini juga sembari menatap gadis keras kepala itu, membuat empunya tidak nyaman, “kenapa? Ingin mengusirku? Tenang saja, setelah ini aku akan pergi.”

Yoongi menggeleng lemah, beberapa kali, “jangan.”

“Hah?”

Sumpah, Naya tidak mendengar apapun, hanya seperti bisikan.

“Kau sudah datang tanpa kuminta,”

“Jadi jangan pergi.”

Yang bisa dilakukan hanya mendesah, “baiklah. Toh, adikmu sudah berprasangka bahwa aku temanmu dan sudah merawatmu selama ini meskipun realitanya tidak ada yang benar.”

Yoongi tersenyum, samar. Ternyata sudah tahu ceritanya, pikirnya.

So?

“Aku akan izin pada ibu dulu.”

Yoongi menaikkan alisnya, “jadi kau sudah baikan dengan ibumu?” Naya menghentikan aktivitasnya, melirik pria itu dengan tajam. Yoongi tahu kalau gadis itu tidak suka disinggung saat itu, ia menunggu responnya.

“Ia tetap ibuku, meskipun sudah berbohong padaku.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s