Tentang Normal

\

ini tentang aku yang sudah menginjak remaja seutuhnya

cr. Photo from Google

 

Kepada,

Ayah dan ibu yang sungguh sangat aku sayangi.

 

Aku ingin sedikit bercerita. Jadi, tolong, dengarkan anakmu ini.

Aku ingin diperhatikan, seperti dulu. Bukan, bukan, bukan berarti aku minta kalian untuk semakin memperketat pengawasanku dan lebih sebagainya. Aku hanya remaja biasa yang ingin bebas, dalam artian yang baik. Aku hanya ingin berkata ini saja. Jadi, ini bukan salah siapa-siapa, aku, kakak, ayah maupun ibu. Jujur, aku hanya ingin menulis ini, menumpahkan segalanya yang terasa sedikit sesak di hati maupun napas.

Rasanya aneh kala rumah sepi dari fajar terbit hingga mencium adzan maghrib. Beberapa bulan yang lalu, ini semua tidak menjadi masalah. Biasa saja. Tetapi semua jadi pertanyaan bagiku yang menginjak usia 17 tahun juga hendak menempati bangku kelas 3 SMK. Sepatah dua patah frasa yang meluncur dari kita saat berpapasan, menanyai keadaanku di sekolah maupun di rumah. Biasanya kujelaskan dari awal sampai akhir, menjadi intinya saja.

Jika saat siang hari bisa bersama-sama makan dalam satu ruang, dengan ibu yang selalu mengomeliku bahwa aku belum bisa menjadi gadis yang seumumnya dan aku yang hanya mengumpat dalam hati kala kau membandingkan aku dengan anak tetangga sebelah, kali ini kejadian itu akan jarang. Atau mungkin tidak ada. Karena aku sering makan siang dalam sendiri, ditemani ponsel, wifi tetangga, dan laptop yang sengaja kuhidupkan dan kudiamkan.

Kasih sayang adalah apa yang aku tuntut selama ini, Aku minta maaf soal ini, dari awal sudah aku katakan ini bukan salah siapa-siapa. Hanya saja, aku tidak terbiasa untuk berdiri sendiri, semuanya aku kontrol sendiri. Kasarnya, aku harus mandiri.

Tidak, bukannya aku tidak bisa mandiri, tidak bisa mengurus diriku sendiri. Bahkan aku sudah bisa mencuci piring, mencuci baju, menyetrika, memasak -meskipun hanya masak air campur mie dan telur- , bahkan kalian mempercayakan soal keamanan rumah kala kalian pergi sedangkan kakak mencari rezeki di negeri orang.

Aku tidak minta dimanja, justru kata itu ada musuh dalam kamus hidupku. Namun, rasanya ini seperti agak aneh. Tidak nyaman agaknya.

Ketika aku masih menggunakan seragam merah putih dan ibu ada di rumah, aku merasa itu sudah biasa, dulu tidak masalah bagiku. Berceloteh apa saja asalkan ibu atau ayah -kalau sudah pulang dari kerja- menanggapiku. Aku tahu kalau ibu meskipun sibuk dengan pekerjaan rumah tetap mau mendengar ceritaku dan ayah yang kelelahan akibat efek kantor tetap tersenyum melihat raut wajah masa kecilku.

Akan tetapi, ketika ibu memutuskan untuk bekerja lantaran bosan menjadi ibu rumah tangga dan beralasan untuk melatihku supaya bisa menjadi mandiri, segalanya terasa… tidak wajar bagiku. Mungkin lantaran ibu mengerti bahwa aku -harus- bisa beradaptasi dengan kondisi seperti ini, meninggalkanku demi merawatku. Hanya saja ada satu hal pasti dari ini semua, ini bukan normalku. Apalagi ditambah kakak yang sudah pintar mencari rezeki di pulau jauh sana.

Untuk ayah, aku tidak mengerti ketika kau mengajak keluarga makan-makan bersama dengan embel-embel aku mendapat peringkat dalam sekolah. Setidaknya, terimakasih untuk itu, cuman, aku akan sangat berterimakasih kalau kau mengajak sekeluarga makan-makan tanpa embel-embel apapun. Seperti dulu. Beberapa tahun yang lalu, bahkan ayah sering menawariku jalan-jalan tanpa embel-embel apapun yang kutanggapi dengan seru dalam mobil yang mengantarku ke sekolah. Dan, yeah, terimakasih juga untuk itu.

Jika seandainya kalian membaca ini, kumohon jangan pernah merasa bersalah. Merasa tidak pantas menjadi orang tua, atau tidak becus merawatku. Anggap saja ini tidak pernah ada. Kenapa? Karena aku hanya ingin menulis ini, tentang kondisi yang belum bisa untuk kuajak beradaptasi.

Karena inilah normalku.

Dari,

Seorang anak yang ingin terlihat normal kembali

END

Note

  • aku males kalo ada yang bilang kalo aku kurang bersyukur dalam hidup, aku tau mereka bekerja keras buat aku sama kedua kakakku tapi aku engga nyaman dengan kondisi ini. dan mereka sama sekali gatau gimana rasanya
  • aku hanya ingin hidup normal
  • sori kalo banyak bacot
Iklan

3 respons untuk ‘Tentang Normal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s