Something Worthwhile

H-4

yang berarti di hati

`ravenclaw

pernah suatu hari aku berkelana jauh dari alam sadarku, berjalan santai seolah asyik berada di area mall besar di ibukota tercinta. Tidak peduli apa yang akan terjadi di depannya nanti, bersiul seenaknya seperti Bill dalam film The Conjuring 2 saat ia menarik dan membawa Janet keluar dari kamarnya. Mata seolah terbiasa dengan dinding kelabu di sekitarnya, tidak risih, bahkan jijik sekalipun tidak.

Ada seseorang berkata, “sedikit lagi kau akan sampai,” yang entah siapa yang berkata, seolah berbisik di belakang telingaku, lembut suaranya, seolah menuntunku kemana aku melangkah. Kuhendak bertanya tetapi ia hanya meniup telingaku, “ssst!!!” pertanda aku harus diam, ikuti kemauannya.

Hingga akhirnya aku merasa telah menginjak sesuatu yang keras namun datar, seperti aspal. Seketika dinding kelabu di sekitar memudar dengan sendirinya, berganti pemandangan lereng bebatuan di sebelah kiri, sedangkan sebelahnya ada sebuah jurang tanpa dasar yang dihiasi pegunungan tinggi nan rimbun di seberangnya. Awan seketika berubah menjadi banyak, angin bertiup kencang, entah darimana ia berasal.

Mataku memandang sekitar, jalannya berliku bak tikungan tajam di area MotoGP yang sering kutonton bersama bapak, juga menanjak bak hendak mendaki entah kemana. Kulihat ada sebuah rumah, seperti warung, di bawah sana, sebelum memasuki jalanan aspal mulus ini. Kupandangi sekali lagi sekitar hingga akhirnya aku tersadar, aku masih mengenakan celana training adidas dan juga T-Shirt bergambar salah satu tokoh dalam kartun The Simpson. Untuk rambut? Yeah, kalian tidak usah tanya, seketika rambutku kembali lurus yang padahal sebenarnya sudah gimbal sejak beberapa jam yang lalu setelah aku mencium aroma kapuk.

“Jalanlah,” begitu kata seseorang yang sudah kujelaskan tadi. Tak usah tanya, aku juga tidak tahu siapa dia, aku hanya disuruh untuk mengikutinya saja. Lama ku berjalan, menikmati pemandangan yang ada sambil sesekali mengelus badan yang sudah ikut kedinginan.

Dirasa sudah lelah, seketika ada seseorang, wajahnya bercahaya, silau, “ayo, kita kembali,” ttu kalimatnya seraya menarik pergelangan tanganku tanpa izin. Berlari cepat bak hyena di Afrika sana, aku sampai tak sadar bahwa aku sudah keluar dari dinding kelabu itu dan seketika aku sudha terduduk bersila di balkon, entah rumah siapa. Rumah itu bersih, juga kamar yang kutempati juga sesuai dengan apa yang kuimpikan. Sebuah ponsel canggih impian juga sudah ditempatnya, menemaniku yang menikmati sore yang indah.

TING!

 

1 notification Line from Ed

 

Ed

Hai, Er

 

Er

Ah, hai juga! ^^

 

Ed?

Siapa dia?

Aku mencoba membuka fotonya yang terpampang, senyumnya menghiasi wajah tampannya dan, astaga! Bukankah dia yang sering kuejek dan kuumpat sewaktu di kelasku? Apalagi saat jam mata pelajarannya dia? Astaga! Kenapa bisa jadi seperti ini!??

 

Ed

Bagaimana kabarmu?

 

Er

Yeah, lumayan.

Ed

Bagaimana dengan novelmu? Apakah sudah kau kirim?

 

Novel?

Novel apa?

Memangnya aku pernah bikin novel?

 

Er

Sorry, memangnya aku pernah membuat novel, ya?

Ed

Loh? Bukannya memang iya kan, Er? Bahkan kau sampai meminta saran  padaku tentang perbaikan bahasanya.

 

Er

Ah, mungkin aku lupa soal itu.

Ed

Masa lupa? Jangan-jangan sama pacar sendiri lupa?

 

Sebentar-sebentar…

What??? Boyfriend???

Dia tidak salah omong kan? Oke, maksudku salah ketik mungkin atau efek dia terlalu banyak minum kopi jadi seperti itu? Tidak mungkin, aku saja yang sering minum kopi biasa-biasa saja kok!

Oke, lebih baik lanjutkan saja.

Er

Mungkin, hahahaha

Ed

Jahat kamu, Er! Hahahaha!!!

 

Ed

Kamu sedang apa sekarang?

 

Ed

I’m so missing you, baby…

 

W-WHAT???

GOMBAL MACAM APA INI???

Aku harap seseorang menarikku dari dunia ini dan…

“Hei! Ayo kita kembali!” seketika sesosok bercahaya itu muncul lagi, kali ini suara lembut seperti pertama tadi, kembali normal.

“Maksudmu kita benar-benar kembali ke rumah, kan? Bukan untuk masuk ke dunia lain gitu, kan?” tanyaku sedikit emosi, salahkan makhluk bernama Ed itu yang sudah membuatku emosi, dan ia hanya terdiam kemudian mengajakku berdiri. Kakinya menaiki kayu pembatas balkon, dan aku mengangkat alis, ini aku benar diajak pulang ke rumah bukan? Kok seperti diajak bunuh diri di rumah tak berpenghuni seperti ini ya rasanya?

“Ini satu-satunya jalan supaya kau bisa kembali ke rumah.”

Oke, ternyata dia bisa membaca pikiranku dan aku sekali lagi hanya bisa mengikuti kemauannya.

Seketika saat kami meloncat dari lantai dua rumah itu, kecepatan semakin bertambah, dan seakan-akan kami menembus tanah hijau itu, dan kembali memasuki dinding kelabu. Sampai akhirnya aku terdorong dan terjatuh di jalanan sekitar perumahan.

De javu

Aku seperti mengenal perumahan ini, ini kan bukannya pertigaan menuju…

INI SUDAH PULANG!

Aku segera berlari menuju rumah berwarna putih yang sudah terlihat dari kejauhan, senyumku mengembang dan ku percepat lariku. Tetapi semua berubah kala semua tetanggaku datang dan mengelus pundakku dengan lembut dan air mata yang mengalir begitu deras begitu juga suara mereka yang sesenggukan.

“Sabar ya, Er, mamamu pasti sudah di surga sekarang.”

DEG!

Apa maksud mereka? Bawa-bawa nama mama?

Segera aku berlari memasuki rumahku, dan terlihat seseorang yang terlihat kaku dengan senyum tipis, sudah dikafani dengan kapas putih yang bersih.

TIDAK MUNGKIN!

ITU BUKAN MAMA!

Aku langsung memeluk tubuh kakunya, menangis keras sekeras yang aku bisa, meraung bak singa yang kelaparan. Tapi aku bukan singa! Aku manusia! Aku tidak kelaparan sedikit pun!

“Sudah, Er, ini sudah takdirnya.”

“Minggir! Ini hanya iseng belaka!”

“Er…”

“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin mama! Mama tadi masih sehat-sehat saja! Mama tidak punya riwayat penyakit apapun! Ini bukan mama!”

“Itu mamamu, Er…”

“INI BUKAN MAMA! INI BUKAN MAMA!!!!”

“Ikhlaskan saja, Er… Ini udah takdirnya…”

Yang bisa ku lakukan hanya menangis, meraung-raung berharap malaikat tersebut bangun dengan senyum konyolnya. Tidak peduli dengan omongan tetangga, aku hanya berharap ia bisa bangun dan memasak sambalado kesukaanku dan bercanda soal apapun itu. Aku belum bisa membelikan apa yang ia suka, aku belum bisa membahagiakannya, aku hanya bisa mengecewakannya, aku, aku…

“Hei, sekarang sudah waktunya kau kembali.”

Sosok bercahaya itu kembali, menepuk pundakku yang naik turun. Aku mendeliknya, tidak suka, “aku kan sudah kembali ke rumah! Apa maumu membawaku seperti ini dengan ending seperti ini!?”

Ia hanya menggeleng, “kali ini kau akan benar-benar pulang ke rumahmu.”

“Ini rumahku, tahu!” bentakku kesal.

“Waktumu sudah selesai, akan aku antarkan,” dan pada akhirnya aku menurutinya meskipun dilanda sedih dan bingung. Tiba-tiba ia mengajakku memasuki dapur dan melambaikan tangannya, “sampai jumpa! Semoga bertemu lagi!” seketika ruangan berganti warna menjadi kelabu.

Aku hanya mengangguk, “hei! Namamu siapa? Dan kau makhluk apa!?” hampir saja aku melupakan tentang itu. Kalau tidak mungkin aku sudah mati penasaran.

I’m yours.

“Hah?”

Dan seketika pintu dapur tertutup dengan keras dan membentuk sebuah lorong yang panjang. Aku berjalan menyusurinya. Sama seperti tadi, aku berjalan dengan amat santai. Hingga akhirnya seketika aku tertidur entah dimana, rasanya sangat nyaman sekali sampai-sampai mataku terlelap.

“Erik! Bangun! Ini udah jam berapa? Katanya mau download film di Telkom Alun-alun!”

Terdengar seseorang berteriak mengguncangkan badanku yang meringkuk, aku hanya bergumam lalu mengucek mataku.

“Eh, aku sudah kembali, ya?”

“Kembali? Emang kamu dari mana saja? Kamu kan dari tadi ngorok sampai lupa…”

“Aku kembali mah!!!!!!” teriakku senang sampai-sampai memeluk mama sangat erat. Aku tersenyum geli menatap wajah mama yang kebingungan.

Ia mengangkat alisnya tinggi-tinggi, “emangnya kamu mimpi apa? Sok-sok bilang kembali, nggenah kamu molor di kasur,” ujarnya bingung sembari mencubit pipiku.

Aku langsung menepuk kasur yang kosong, menyuruhnya duduk di sampingku. “Tadi aku mimpi mah! Keren!”

Mama tersenyum, “memangnya kamu mimpi apa?” ia siap mendengar cerita petualanganku.

Aku menarik napas, siap untuk bercerita, “aku tadi mimpi tiba-tiba aku sudah ada di jalan pegunungan seperti jalanan yang mau pergi ke Semarang itu loh! Adem banget hawanya! Terus, terus, aku tiba-tiba pindah tempat lagi di rumah kayu gitu! Keren wes mah! Furniturnya apik! Terus kan aku malah seperti punya hp yang aku suka itu! Dan mama tahu aku malah chat line sama siapa? Sama si Ed sialan itu!!!! Jijik! Masa aku sampai dibilang kalau aku pacarnya dia? Mungkin itu efek dia belum kawin kali ya, mah, sampai bilang kalau aku itu pacarnya hahaha! Oh iya, terus tiba-tiba aku pindah tempat lagi, tahu gak pindahnya kemana? Di rumah kita! Tapi waktu itu tiba-tiba ada pengajian gitu terus ada yang bilang kalau mama meninggal.”

“Terus?” tanya beliau kala melihat wajahku mendung.

“Ya… aku teriak-teriak gak jelas gitu, gak terima kalau mama dibilang meninggal. Ya gitu deh!”

Mama seketika tersenyum mengelus rambutku yang masih berantakan, “ya sudah, kamu berdoa aja supaya mama sama papa punya umur yang panjang, bisa lihat kalian bertiga sukses. Sudah gih, kamu sholat dhuha, kan kamu tadi enggak sholat subuh,” aku mengangguk-angguk semangat sembari turun dari kasur kecilku.

Sorry, ya mah kalau Erik tadi lupa sholat subuh. Soalnya kemarin keasyikan nonton The Conjuring 2. Hahaha…”

Mama menggelengkan kepalanya, gemas, “nanti malam kamu ditungguin loh sama Valak.”

“MAMA JAHAT!”

Aku berlari menuju kamar mandi, hendak membersihkan diri yang tidak lupa juga membawa handuk. Saat aku melewati dapur aku mengamatinya dalam-dalam. Apa nanti ia datang lagi kesini? Tadi wajahnya sedikit terlihat saat kami hendak berpisah dan aku ingin melihat wajah itu lagi.

Ah, setidaknya aku berterimakasih padanya karena sudah mengajakku ‘jalan-jalan’ tur yang aneh tadi.

Dan, hei, kamu! Semoga kita bertemu lagi, ya!

based on true story

062116

by the way, makasih ya seseorang yang udah mau jadi tour guideku haha…

with ❤

rc~

Iklan

8 respons untuk ‘Something Worthwhile

  1. mimpimu kemana2 lho :” dan hebatnya lahi, kamu bisa nginget semuanya. aku mah cuma bisa inget seimprit, itu juga kadang kukarang2 sendiri krn ada bagian rumpang (alias ga masuk memori.-.)

    maaf yah tetiba night hadir di lapakmu, ninggalin komen yg entah apa maksudnya’-‘

    btw, kuliat kamu sering nerima request poster? wah, bolehkah sesekali aku nitip? im bad at designing dan postermu kece2!👍

    Suka

    • hahaha.. entah gimana aku juga bisa inget semua itu terlalu membekas dihati ini /eakkk :v
      waha tak apa kawan 🙂
      em yeah kira-kira kek gitu haha.. boleh kok hehehe.. duh posterku mah apah yahhh huhuhu T^T

      Suka

  2. KAKK CERITAMUU KAYAKNYA BANYAK YANG TRUE STORY YA , SENENG KALAU BACA SESUATU YANG TRUE STORY , TERUS CERITANYA DIKEMAS PAKE BAHASA YANGG AHHH ♥♥ *loh ndak jelas

    MIMPINYA UNIK YA KAK BTW HEUHEU
    *lah daku mah apa jarang bgt mimpi , terakhir mimpi , mimpi kebelet buang air kecil kok zedih yha :”)

    *maap tba” ngerusuh
    emang dedeq mah gt

    tertanda,
    princess emeshnya chanyeol 😉 *wink wink

    Suka

    • INI KENAPA MUNCUL LAGI YATUHANN…. T^T :V
      eheeeee benarkah??? perasaan juga banyak yang fiksi kok hahaha…WADUH PADAHAL BASA GUE AMBEREGUL AMESEYU MINTA DIBELAI HUHUHU T^T

      udah dari kapan aku dapet mimpi yang aneh-aneh salah satuya yahhh ini :’v
      *sante ae dek, ane juga pernah kok mimpi begitu tapi terakhir kelas 6 haha :v

      sakkarepmulah deeeeeekkkkkk -_-

      tertanda
      masa depannya suga 😉

      Suka

      • Belaiii dedeq kakk
        Gadeng gadeng
        Mau dibelai akang cahyo sajhaa *kok jijik

        Iyaa untung ga sampe msk kamar mandi, jdi ga ngompol beneran di dunia nyata wkwk

        Tertanda
        Princess disney nya mz cahyo *ganti nama wkwk

        Suka

      • KAK ERIK
        YANG KAKAK LAKUKAN KE SAYA ITU
        JAHAD

        *ndakk ah aku lebih seneng sama cahyooo kokk 😍😍😍

        Wahhh berartiiiiii hihihi 😂😂😂

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s