[Vignette] Damai

cr : photobucket

DAMAI

karena hal yang paling berat saat ini adalah meninggalkan kalian

Sejauh yang mampu kau ingat dalam kubangan pikiranmu, tujuh tahun adalah lama waktu yang telah memisahkanmu dari kehidupan lamamu, beserta memorinya, beserta rasa manisnya. Kau telah berhasil, atau memang benar-benar berhasil meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lamamu, bermain game sembari berteriak, “Oh, come on, aku harus memenangkan taruhan ini!” atau tersenyum manis kearah teman kentalmu sembari berkata, “Luhan, boleh minjam buku tugasnya?”. Yeah, kehidupan yang indah tujuh tahun kemarin, berjalan-jalan sendirian ke Sungai Han, menikmati hasil jerih payah sendiri,  dan mendapat title sesuai harapanmu meskipun kau sama sekali tidak terikat oleh kantor manapun.

Indah, sebelum sebuah kejadian berhasil merenggut kehidupanmu yang tidak ingin kau ingat-ingat lagi, menyebabkan dirimu hanya bisa tergolek lemas tak berdaya sembari menikmati cahaya mentari dari balik dinding kaca yang tebal ditemani dinding beton bercat putih di sekitarmu. Memang, kau saja yang tolol tidak bisa menguatkan diri menerima tawaran balapan go kart dengan sepupu gilamu karena saat itu pula kau sedang membuat sebuah pola pada sebuah kertas yang sudah ternodai setengahnya.

Sosokmu yang hampir sama sekali tak kau kenali saat kau mencoba iseng melihat bagaimana perawakan dirimu di cermin beberapa waktu yang lalu, matamu membulat sempurna, wajahmu kaget tak percaya akan penglihatanmu, Kau berdiri di sana beberapa menit yang rasanya seperti beberapa jam lamanya, sampai akhirnya kau berani -meskipun ragu- untuk menyentuh kulit kepalamu yang sedikit mulai terlihat, wajahmu pucat menyaingi cat dinding kamarmu yang kedua, dan tak lupa hiasan di jemarimu yang tak lain dan tak bukan rambut panjangmu yang selama ini kau rawat sepenuh hati. Ibumu juga memberitahumu secara perlahan dengan suara sedikit tercekat kala kau bertanya tak percaya akan tubuhmu semakin kehilangan lemaknya, karena semua itu efek dari pengobatannya yang kau jalani selama tujuh tahun terakhir.

Kau masih ingat gontai langkahmu kala mendengar tutur halus sang ibu bahwa sebuah musibah, malapetaka atau kalian bisa sebut penyakit yang berbahaya bersarang di otakmu yang cemerlang, baru terkuak penyebabnya beberapa bulan kemudian saat beberapa bulan baru kau mengeluh dalam berbagai bahasa tapi satu rasa. Penyebabnya adalah saat kau tak sengaja membanting setir go kart yang kau tumpangi ke kiri menyebabkan kepalamu membentur keras setir yang ada di depannya.

Kau ingin berteriak, meraung, menangis, bahkan sumpah serapah sudah kau siapkan di ujung bibir kecilmu yang mulai retak, tapi pada akhirnya, kau hanya menangis terisak, tak peduli dengan tanganmu yang masih setia dihiasi jarum infus untuk menghapus air asin tersebut, karena pada hakikatnya kau tidak bisa menyalahi takdir.

Tujuh tahun sudah kau lalui dengan segala kekuatan yang tersisa, jiwa, raga, pikiran, hati, bercampur menjadi satu yang pada akhirnya berbuah menjadi rasa pasrah. Kau semakin tergolek lemah dengan sisa tubuh yang masih ada di dalam dirimu, kau hanya tersenyum kecil kala ibumu menangis terisak tak sengaja mengucapkan kalau malapetaka itu semakin kuat berada di tubuhmu yang semakin kecil. Kali ini kau hanya bisa mengangkat tanganmu, tak tinggi, menunjuk pada sebuah atensi yang tenang di seberang sana, “tolong dong, ambilkan botol mineral itu.”

Lelaki jangkung berambut kokoa itu hanya menuruti perintah tanpa suara, menyiapkannya dengan baik lalu menegakkan kasurmu supaya bisa menikmati seteguk dua teguk untuk membasahi tenggrokan dan juga bibir kecilmu, “gimana? Sudah enakan?” kau hanya tersenyum kecil, mengangguk.

Ia hanya mengelus puncak kepalamu dengan lembut, “kau harus kuat ya, kita pasti kuat,” ujarnya dengan bibir sedikit bergetar,  terlihat dari matamu bahwa matanya sedikit memburam, “aku bosan mendengar kau berkata seperti itu, Lu,” ujarmu berusaha menghibur sekaligus mencairkan suasana.

“Ya, pokoknya kau harus kuat ya, Alann?” dan kau hanya bisa mengangguk-angguk kecil, seolah-olah menyanggupi permintaanya dengan mudah yang sebenarnya sudah kalian ketahui sendiri apa hasilnya.

Kau menoleh, mencari sesuatu atau mungkin seseorang yang sedari tadi tak tampak batang hidungnya, “mana ibu?” tanyamu sembari menoleh ke sembarang arah.

Luhan berjalan cepat meninggalkanmu, berusaha mencari atensi seseorang secepat mungkin, hingga beberapa detik kemudian, tak hanya Luhan dan ibumu saja yang terlihat. Namun, ayahmu yang sengaja datang jauh dari negeri seberang, juga beberapa sepupu terdekatmu -Chanyeol dan Kai- berjalan mendekati kasurmu.

“Gimana, Lan? Apa kau ingin makan?”

“Badannya gimana? Udah enakan?”

“Alann mau keluar jalan-jalan bersamaku?”

Dari semua pertanyaan kau hanya menjawab dengan menggelengkan kepala beberapa kali,  kau mengangkat tanganmu memanggil ibu dengan suara yang amat pelan, menyuruhnya untuk mendekatimu lebih intens. Kau hanya bisa menjawab, “ada yang ingin aku bicarakan,” atas ekspresi ibumu yang sedikit bingung.

“Ibu sudah bawa kardus yang kupesan kemarin?”

Beliau mengangguk.

“Nanti, keluarkan barang-barangku dari lemari ini ya, bu? Habis itu bawa ke rumah ditaruh di lemari kamarku ya, bu?” kau sedikit memohon, berharap ibu mengiyakan permintaanmu yang justru semakin menaikkan alisnya, “memangnya kenapa? Alann sudah bosan dengan barang-barang ini?”

Kau menggeleng.

“Sekedar untuk dirapikan saja, supaya tidak repot saat aku …”

“…”

“A-Alanna…”

Semua seketika terdiam begitu saja, memotong ucapanmu yang belum kau selesaikan, tertunduk dan mengucapkan, “kau pasti kuat, Alann,” secara bersamaan dengan berbagai bariton yang berbeda.

Kau hanya bisa mengembuskan napas kala genggamanmu semakin mengerat di tangan pria Xi dan beberapa air mata jatuh terasa membasahi tanganmu

Kau membalikkan badanmu, menyembunyikan wajahmu yang mulai tergenangi oleh air mata. Pada akhirnya, dari semua kegiatan yang pernah kau lalui. inilah yang membuatmu kesal, sedih, berat, kecewa, dan entah apalagi.

Karena ini adalah momen terberat yang harus kau lewati, meninggalkan orang-orang yang kau cintai untuk menemui-Nya.

 

END.

I will not kiss you

‘Cause the hardest part of this, is leaving you

Cancer – My Chemical Romance

ini persembahan buat ayu putri dari erik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s