[Vignette] Berharap

BERHARAP

ketika manusia tidak terlalu berharap banyak

by Ravenclaw

Kala mega mendung mulai pergi, kala jantung mulai berdetak seperti biasa, kala hembusan napas lega mulai terdengar, dan kala suasana mulai kembali seperti biasa, aku terduduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan kota ternyaman sekaligus berubah menjadi tersibuk yang menjadi tempatku bernaung.

Warna oranye mulai melapisi atmosfer, memaksa membuka berlapis-lapis awan seolah-olah mengatakan pada awan itu kalau hari sudah harus mulai cerah kembali. Terbukti pada beberapa orang yang mulai berlalu lalang seperti biasa, setelah berteduh beberapa menit.

Aku juga demikian, aku seperti berlari beberapa kilometer dan tanpa malu aku masuk ke kedai kopi itu dengan sedikit merapikan sanggul rambutku kemudian menanggalkan kacamata tebal itu ke dalam tas punggung hitamku.

Hari-hari seperti ini sudah biasa bagiku sejak aku melepas almamater SMK-ku dan mulai bekerja sebagai IT di sebuah perusahaan perbelanjaan besar di negeri ini. Sehabis dari kantor, aku pasti akan berjalan sekitar dua ratus meter ke kedai ini lalu mampir sebentar ke toko kue atau toko makanan sekedar memberi oleh-oleh untuk ayah dan ibu yang sudah pensiun di rumah.

Itu rutinitasku setiap hari selama dua tahun terakhir.

Bosan?

Tidak, biasa saja. Aku sudah biasa melakukan hal seperti ini.

Atau berharap sesuatu yang lebih?

Kalau untuk pertanyaan ini sedikit ragu untuk kujawab ya, dan kujawab tidak. Setiap manusia pasti ingin mengharapkan yang lebih dari kebiasaan yang mereka lakukan, kan? Aku juga sama demikian, tetapi entah mengapa aku juga tidak terlalu mengharapkan lebih juga.

Hidupku sudah mapan saat ini, sudah mampu membeli motor sendiri, memberi keperluan untuk ayah dan ibu juga kebutuhanku sendiri sudah tercukupi, mengingat bahwa gajiku sangat cukup untuk menghidupi kami bertiga.

Apakah aku anak tunggal?

TIDAK! Tidak, itu tidak benar! Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara dan kedua kakakku merantau keluar kota sekedar mencari pengalaman hidup. Aku pernah bertanya pada mereka berdua, mengapa aku tidak boleh ikut merantau seperti mereka?

Dan jawabannya sangat sederhana.

Bahwa aku tugasnya adalah menjaga ayah dan ibu di kota kecil ini.

Dari jawaban itu, seolah-olah garis takdir kami sebagai anak ayah dan ibu sudah ditentukan. Kedua kakakku sebagai pencari akan kehidupan sedangkan aku adalah sebagai penjaga di rumah kecil kami. Dan aku tidak menolak, aku setuju dengan perjanjian kami bertiga. Toh, diantara kami semua, aku yang paling telaten merawat kedua orang tuaku meskipun hanya bisa memberi sedikit materi.

Setiap hari, aku selalu bercerita tentang apa saja yang terjadi di kantorku pada ibu, meskipun responnya hanya tersenyum sembari mengelus rambutku, aku tetap saja senang bahwa ibu mau mendengar cerita konyolku di kantor. Terkadang kami juga membicarakan tentang mimpi dan harapan.

Berharap aku dan ibu bisa seperti ini, berharap aku dan ayah bisa seperti itu, berharap kami bertiga bisa bersama, dan lain-lainnya yang hanya bisa kusenyumi dan mengaminkan perkataan ibu.

Tapi, semakin aku dewasa, semakin aku mengerti, aku tidak bisa berharap banyak. Kami bisa mengucapkan banyak kata dengan mudah, seolah-olah semua pasti bisa terwujud. Tapi, pada kenyataannya harapan tidak sesuai kenyataan. Hidup itu misteri, tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, detik berikutnya, menit berikutnya, besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan.

Maka dari itu, aku hanya bisa berusaha sebisaku dan berserah diri untuk selanjutnya, berdoa yang terbaik bagi keluarga kecilku. Yang terpenting, aku ingin selama mungkin seperti ini. Entah sampai kapan.

Black coffee dan oreo cheese cake, silakan dinikmati.”

“Terimakasih.”

 

TING!

 

From : Ibu

Er, Kak Ria dan Kak Rudi pulang, katanya mau rembuk soal kawinan Kak Rudi sama Mbak Anna, jadi kamu cepet pulang ya?

 

Oh, Kak Rudi beneran mau kawin? Oke mah, aku segera meluncur pake jet ^^

END.

Jangan terlalu banyak berharap

Takutnya kalau harapannya engga jadi nanti endingnya galau

:v

regards

Ravenclaw ^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s