Rimba?

banyak orang bertanya padaku, sangat sederhana dan tidak muluk-muluk seperti orang hendak dijodohkan.

“nak, dimana rimbamu berada?”

maka aku akan menjawab

“jika bisa aku tidak usah punya rimba, pak.”

aku tahu jika seseorang itu terlihat bingung atas ucapanku yang mungkin langsung tercetus atau entah apa. banyak peribahasa mengatakan kalau kau berkelana kemanapun maka kau akan kembali pada rimbamu atau istilah jika kau pergi kemanapun pada akhirnya kau akan pulang ke rumah.

kalau itu sih, aku setuju.

tapi, bagaimana denganku?

setiap orang pasti mempunyai rimbanya, entah dimana pasti setiap mereka pergi selalu pulang ke rimbanya. kalau aku?

ah, aku juga sama seperti orang lain, aku juga selalu pulang ke rimbaku.

setiap orang pasti menginginkan rimba yang tenang dan juga menyenangkan sehingga lupa dengan masalahnya tadi atau kemarin atau sebulan atau beberapa waktu yang lalu.

tapi, bagaimana dengan rimbaku yang ternyata tidak seperti itu?

membosankan,

menyedihkan,

bahkan timbul rasa dendam yang seharusnya dilarang oleh yang kuasa.

suara bentakan,

suara tangisan,

saling membenci, mendendam, bahkan berani untuk mengepalkan tangan berharap tangan ini bisa menyentuh salah satu dari bagiannya.

semua bercampur dalam rimbaku yang gelap.

dan selama aku hidup aku bertanya,

apakah aku dosa dengan tindakanku seperti ini?

tak usah dijawab, aku tahu apa jawabannya. bahkan tertera dalam kitab milik kita masing-masing.

tapi, aku harus bagaimana?

kalau kata orang, jika kau benci pada orang tersebut bencilah jangan kau sembunyikan.

ya, aku sudah membencinya sepenuh hatiku.

tapi menurutku itu saja tidak cukup untuk meredakan emosiku.

aku butuh dendam,

aku butuh dendam,

dan

aku butuh dendam.

tapi, aku tidak mau menumpuk dosaku yang sudah kusimpan sejak aku lahir.

lalu aku kembali berpikir atas pertanyaan tadi yang mengelilingi kepala hitam ini.

“nak, dimana rimbamu?”

aku akan menjawab.

“sebenarnya aku tidak ingin mempunyai rimba dan itu sepertinya lebih baik.”

 

Magelang, 2 Mei 2016 jam 7 lebih 28 malam

dendamku masih tersimpan rapi dalam hatiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s