Terpurukmu

scad-photography-5

TERPURUKMU

Original by Ravenclaw

Hariku…

Hariku sangat terpuruk, setiap hari, setiap saat, setiap waktu, setiap detak ini, selalu terpuruk. Buruk. Itulah yang menghiasi hariku setiap saat, bahkan aku sangat terbiasa dengan keburukan ini.

Kutersenyum seolah tidak ada yang terjadi, kutertawa seolah aku bisa menertawakan apa yang kulihat, kujahil seolah aku bisa mengerjai semua dengan meremehkan segala hal, kutermangu seolah aku memikirkan masa depanku. Tapi itu semua sia.

Sia, ya?

Ah, aku tertawa dengan satu kata itu. Aku sangat sudah biasa dengan kata yang selalu melekat dalam seragam yang sehari-hari kupakai untuk berangkat ke sekolah. Mengingatnya membuatku geli.

Semua hal buruk sudah melekat padaku saat dia pergi dari kehidupan yang penuh warna itu, dulu. Meninggalkanku tanpa alasan yang pasti, seolah-olah jika hidup bersamaku akan membawa sial seumur hidupnya. Pergi entah kemana sesuka hatinya, tanpa peduli mengabariku dan menanyai keadaanku.

Jangan tanya padaku tentang siapa dia dalam hidupku, aku pun tidak sudi untuk mengakuinya.

Mengakuinya? Dalam hidupku?

Ingin rasanya aku membuang ludahku di mukanya dan membiarkan Tuhan menghukumku.

Hukum?

Aku sering bertanya kenapa Tuhan menghukumku dengan cara yang sadis ini? Apa memang tidak ada hukuman yang pantas untukku yang hanya seorang remaja menginjak umur dewasa ini?

Pertanyaanku, jika aku membuang ludah ini di mukanya apa aku akan mendapat hukuman lagi? Semisal, menggoreskan papan besi yang runcing itu ke permukaan halus dekat nadiku ini?

Apakah aku dianggap bodoh lagi setelah aku melakukan hal semacam itu pertama kali di saat dulu?

Tapi aku tidak peduli soal itu.

Yang kupedulikan saat ini adalah sesosok pria dewasa dengan topi baseball menghiasi anggota tubuh paling atasnya. Dengan wajah khawatir sekaligus sedih ia duduk di ruang magangku dan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin membuang ludahku ke wajahnya yang tak pernah kulihat selama belasan tahun tersebut.

“Dia datang ke rumah kita, dia ingin membawa adikmu bersamanya.”

“Lalu bagaimana dengan adik? Apa dia mau? Kuharap dia…”

Dan dia tersenyum kecil, aku berharap sesuatu yang menggembirakan hatiku di saat aku stres menghadapi masalah-masalah di kantor magangku ini.

“Dia tidak mau, dia tetap ingin bersama kita. Meskipun hidup kita sebatang kara.”

Dan aku tersenyum lebar saat itu. Sangat lebar.

Dan kumohon pada-Mu, biarkan aku tersenyum seperti ini untuk sementara waktu. Karena hariku selalu terpuruk.

Setiap hari, setiap saat, setiap waktu, dan setiap detak ini.

 

Extra quotes :

Hidupmu penuh ragaman

Dan kau beruntung diberi hidup yang kau sebut kelam

Jangan pernah menyiakannya

Karena itu tidak berarti waktu akan kembali seperti zaman dulu

Biarlah

Mengalir

Janganlah hiasi kulitmu dengan bekas sayatan papan besi runcing itu

Janganlah kau hiasi tenggorankanmu dengan minuman yang tak dianjurkan oleh-Nya

Tak ada manusia sekuat dirimu, bahkan superman

Superman bisa mengangkat beban seberat gedung WTC disana, tapi dia tidak bisa menghadapi masalah sepertimu

Maka, jangan menyerah

Jangan putus asa

Jangan protes

Karena itu memang skenario untukmu

Karena dibalik itu semua ada hadiah istimewa untukmu nanti

Karena itu terimakasih, telah menginspirasiku

Menginspirasi untuk menulis ini tentang keterpurukanmu

M.A.R

 

Hari ini kutulis di sebuah kamar dengan cat yang mengelupas.

Karena harimu selalu terpuruk, setiap hari, setiap saat, setiap waktu, setiap detakmu.

 

-ravenclaw

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s